NhtWfPz58M7zQ3LTiasbXsSuTgl7LmPmXMtLy6Eg

Hambatan Mengembangkan Kecerdasan Emosional Anak

Kecerdasan Emosional Anak

Di dalam masyarakat kita berkembang anggapan bahwa, anak dengan IQ tinggi kelak akan sukses ketika dewasa. Pendapat ini tidak sepenuhnya salah, juga tidak bisa dikatakan benar.

Penelitian Daniel Goleman menemukan bahwa, kesuksesesan seseorang 80% ditentukan oleh kecerdasan emosional (EQ). 20%-nya disumbang oleh kecerdasan intelektual.

Penemuan ini membuka mata kita sebagai orang tua untuk tidak terlalu fokus pada kecerdasan intelektual, mulailah mengembangkan kecerdasan emosional anak sejak dini agar IQ dengan EQ mereka bisa berkembang beriringan.

Pertanyaannya, bagaimana cara mengembangkan kecerdasan emosional anak sejak usia dini?

    Kecerdasan Emosional Anak

    Para ahli mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai kemampuan seseorang untuk mengungkapkan dan mengelola perasaan secara tepat dengan tetap menghargai perasaan orang lain.

    Kecerdasan emosional anak merupakan keterampilan yang dimiliki anak untuk mengenali beragam jenis emosi, dan bagaimana menyesuaikan sikapnya dengan situasi emosi yang ada.

    Kecerdasan emosional memberikan manfaat yang besar pada anak. Membantu anak untuk memiliki keterampilan penting dalam perkembangan mereka, seperti:

    • mengenali perasaannya,
    • mengekspresikan emosinya dengan sehat,
    • memahami perasaan orang lain,
    • mengelola konflik dengan baik,
    • membangun relasi sosial yang dalam,
    • mengubah niat menjadi tindakan,
    • dan membuat keputusan berdasarkan informasi tentang apa yang paling penting bagi anak.

    Keterampilan sosial di atas yang akan membawa anak untuk berhasil di sekolah, memilih karir, dan meraih tujuan yang diharapkan anak.

    Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Perkembangan Anak

    Mengembangkan kecerdasan emosional anak sejak usia dini memiliki arti penting dalam perkembangan anak. Mereka akan lebih siap menghadapi tantangan dalam hidup. Pada waktunya, anak yang cerdas secara emosional menjadi orang dewasa yang seimbang, yang dapat mengelola situasi rumit secara rasional dan tenang.

    Anak yang cerdas secara emosional menyadari emosi mereka dan berbicara dengan bebas tentang mereka, sambil mengenali emosi orang-orang di sekitar mereka.

    Mereka tahu bagaimana mengelola perasaan negatif mereka, memiliki perilaku yang wajar bahkan ketika hal-hal tidak berjalan seperti yang mereka inginkan, memiliki motivasi yang tinggi, mereka tidak mudah menyerah meskipun menghadapi situasi yang sulit.

    Kecerdasan emosional yang baik memberikan dampak positif bagi anak, mereka mampu mengendalikan amarah, menjalin hubungan pertemanan dengan baik, menyelesaikan konflik dengan damai.

    Sebaliknya, anak dengan kecerdasan emosional yang rendah akan berdampak negatif baginya. Mereka gampang menyerah ketika berada pada situasi yang sulit. Amarahnya akan mudah meledak ketika terlibat konflik, seperti berteriak keras, berkata kasar, bahkan perilaku agresif yang bisa menimbulkan kekerasan di sekolah maupun di luar.

    Hambatan dalam Mengembangkan Kecerdasan Emosional Anak

    Untuk mengembangkan kecerdasan emosional anak tidaklah semudah membalik telapak tangan. Disamping banyak cara, salah satunya mengembangkannya dengan media dongeng, juga banyak faktor dan hambatan yang harus Anda lalui sebelum anak Anda benar-benar cerdas secara emosional.

    Berikut hambatan dalam mengembangkan kecerdasan emosional anak.

    1) Kondisi kesehatan

    Sudah menjadi rahasia umum, kondisi kesehatan yang baik membawa seseorang sehat secara jasmani dan rohani.

    Kondisi kesehatan anak yang baik membawa emosi yang menyenangkan menjadi lebih dominan, sebaliknya, kesehatan anak yang buruk menjadikan emosi tidak menyenangkan lebih menonjol.

    2) Suasana rumah

    Rumah adalah tempat tumbuh kembang anak. Semuanya dimulai dari rumah, di mana anak belajar pola perilaku dan cara mengelola emosi.

    Suasana rumah yang penuh kebahagiaan, sedikit kemarahan, tanpa perasaan cemburu dan dendam membawa anak pada perasaan kebahagiaan, yang mendukung anak mengembangkan emosi positif.

    3) Gaya pengasuhan

    Gaya pengasuhan anak dapat memengaruhi segalanya, mulai dari seberapa berat anak Anda hingga bagaimana perasaannya tentang dirinya sendiri.

    Anak-anak yang dibesarkan dengan disiplin otoritatif memiliki kecenderungan lebih bahagia dan sukses di kemudian hari. Mereka juga lebih baik dalam hal membuat keputusan dan melakukan evaluasi risiko keselamatan sendiri.

    4) Relasi anggota keluarga

    Relasi yang sehat di dalam keluarga mendukung anak menjadi cerdas secara emosi. Anak dapat belajar bagaimana menjalin hubungan yang positif.

    Anak yang dibesarkan di dalam keluarga yang tidak rukun, cekcok dalam keluarga, dan kekerasan dalam keluarga mendorong emosi negatif “menguasai” perkembangan anak.

    5) Hubungan teman sebaya

    Bermain dengan teman sebaya penting untuk tumbuh kembang anak. Hubungan dengan teman sebaya tidak selalu menyenangkan. Ada masanya anak merasakan kesenangan, gembira, ceria, riang, senang saat bermain. Ada kalanya juga anak memiliki rasa tidak menyenangkan, takut, sedih, marah, bahkan merasa tidak berdaya.

    Perasaan tidak menyenangkan yang dialami anak jika tidak dikelola dengan baik, membawa emosi negatif dalam perkembangan emosional anak.

    6) Proteksi berlebihan

    Orang tua yang memiliki proteksi berlebihan terhadap anak membuat anak kurang memiliki kecakapan membaca situasi dan kondisi di sekitarnya. Anak tidak memiliki keterampilan yang cukup dalam mengatasi masalah ketika berada dalam situasi yang sulit. Mereka berada dalam “kendali” orang tua.

    Anak yang terbiasa dalam proteksi yang berlebihan akan menyimpan “ketakutan” dalam perkembangannya, takut salah, takut gagal, dan tidak mengetahui kelemahan dan kekuatan pada dirinya.

    7) Orang tua yang menuntut

    Orang tua pasti memiliki harapan yang tinggi pada anaknya. Sayangnya, sadar atau tidak, orang tua terkadang menaruh harapan yang terlalu tinggi pada anak, tanpa memperhatikan perasaan dan keinginan anak.

    Tuntutan orang tua yang tinggi pada anak, pada satu sisi mendorong anak untuk bekerja lebih keras. Memberi motivasi pada anak. Sisi lain, ketika anak tidak mampu memenuhi harapan orang tua membuat anak lebih mudah frustasi.

    Bagaimana Orang Tua Mengembangkan Kecerdasan Emosional Anak?

    Beberapa anak, secara naluriah, memang lebih selaras dengan kecerdasan emosi mereka dan akan siap menghadapi situasi dan orang baru atau berbeda dengan lebih mudah. Yang lain memiliki kecerdasan emosi yang lebih rendah sejak awal dan membutuhkan orang tua -orang dewasa- untuk mengajari mereka dengan cara yang lebih fokus.

    Bagaimanapun, semua anak kecerdasan emosi mereka perlu dibangun dan didukung melalui pengalaman emosional saat mereka tumbuh.

    Nah, berikut ini beberapa cara dan peran orang tua dalam mengembangkan kecerdasan emosional anak yang bisa Anda lakukan;

    1) Menjadi teladan

    Anda harus menjadi contoh kecerdasan emosional bagi anak-anak Anda. Jangan berharap Anda berhasil membangun kecerdasan emosi anak Anda, jika Anda sendiri tidak cerdas secara emosional.

    Studi menunjukkan bahwa, orang tua yang cerdas secara emosional ada kecenderungan memiliki anak yang cerdas pula secara emosional. Jadi, biasakan untuk fokus dengan jelas dalam membangun keterampilan emosi Anda sehingga Anda bisa menjadi panutan yang efektif bagi anak Anda.

    2) Membuka diri

    Buka hati Anda untuk mereka, gunakan kata-kata sederhana, dan sesuaikan pendekatan Anda dengan usia dan pemahaman anak. Dengan demikian, anak akan belajar untuk meniru jenis perilaku ini dan tidak akan malu untuk berbicara jujur tentang perasaan mereka.

    3) Mendengarkan

    Dengarkan mereka dan bantu mereka membuat keputusan terbaik. Jadilah pendengar yang baik bagi anak Anda, bimbing dan bantu mereka mengidentifikasi masalah dan solusi atas masalah yang dialami anak. Biarkan anak mengambil keputusan untuk dirinya sendiri. Anda cukup memberikan pemahaman tentang konsekuensi atas keputusan yang dia ambil.

    4) Menjadi pelatih

    Latih berbagai situasi kehidupan dengan anak Anda dan ajari mereka cara bereaksi. Bagian dari upaya mengembangkan kecerdasan emosional anak adalah melibatkan anak belajar bagaimana memecahkan masalah.

    Cobalah untuk bertindak sebagai pelatih, bukan pemecah masalah yang sebenarnya. Berikan bimbingan bila perlu, tetapi berusahalah untuk membantu anak Anda melihat bahwa mereka memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah sendiri secara damai dan efektif.

    5) Memahami anak

    Cobalah untuk tidak menghakimi. Akui sudut pandang anak. Pahami mereka. Ini bukan berarti Anda setuju, hanya saja Anda melihatnya dari sisinya juga.

    Merasa dipahami memicu biokimia yang menenangkan. Jalur saraf yang Anda perkuat setiap kali dia merasa tenang itulah yang akan dia gunakan untuk menenangkan dirinya seiring bertambahnya usia.

    6) Melibatkan anak

    Libatkan anak dalam pekerjaan rumah tangga untuk melatih peran dan tanggung jawab dalam lingkungannya, tentu saja sesuaikan dengan kemampuannya. Seperti membersihkan kamar anak, atau merapikan barang-barang miliknya.

    Libatkan anak dalam pengambilan keputusan, utamanya yang didalamnya ada kepentingan anak. Melibatkan anak dalam situasi pengambilan keputusan tertentu membuat anak belajar bagaimana mengambil keputusan bersama.

    7) Biarkan anak bermain

    Anak-anak perlu bersosialisasi dan bermain, jadi pastikan mereka mendapatkan manfaat dari kegiatan tersebut sebanyak mungkin. Semua anak mengalami perasaan yang besar setiap hari. Mereka sering merasa tidak berdaya, marah, sedih, takut, atau cemburu.

    Anak-anak yang sehat secara emosional memproses perasaan ini dengan bermain, begitulah cara anak-anak belajar.

    Membantu anak Anda "memainkan" konflik batinnya yang besar memungkinkan dia menyelesaikannya, sehingga dia dapat melanjutkan ke tantangan perkembangan yang sesuai dengan usia berikutnya.

    Ciri-Ciri Kecerdasan Emosional Anak

    Berikut adalah ciri-ciri yang menunjukkan bahwa anak Anda sedang dalam perjalanan untuk menuju tingkat kecerdasan emosional yang baik.

    • Mereka memahami dan mengenali kekuatan dan kelemahan mereka.
    • Mereka memiliki harga diri yang tinggi dan tidak takut untuk mengungkapkan apa yang mereka butuhkan.
    • Mereka tahu bahwa cara mereka melihat diri mereka sendiri mungkin tidak sama dengan cara orang lain melihat mereka.
    • Mereka dapat mengatur emosi dan perilakunya sesuai dengan tuntutan situasi.
    • Ketika merasa frustrasi, mereka dapat menenangkan diri — alih-alih bertindak dengan amarah.
    • Mereka tahu kapan harus berhenti dan mengambil langkah mundur untuk menghindari membuat pilihan impulsif (yang mungkin mereka sesali di kemudian hari).
    • Mereka tidak menyerah pada tujuan yang mereka inginkan.
    • Mereka ingin tahu, bersemangat untuk belajar dan tidak takut untuk bertanya.
    • Alih-alih merasa putus asa, mereka belajar dari kesalahan mereka dan mengambil pelajaran dari masalah tersebut di masa depan.
    • Mereka bekerja dengan baik dalam pengaturan tim dan dapat menangani tantangan bersama-sama.
    • Mereka memiliki empati, mampu merasakan emosi orang lain, dan memperhatikan perasaan orang lain.
    • Mereka berusaha untuk mencoba memahami sesuatu dari sudut pandang orang lain.
    • Mereka menunjukkan perilaku yang baik dan berkomunikasi dengan baik dengan orang lain.
    • Mereka menunjukkan pertimbangan atas perasaan dan minat teman, keluarga, dan teman sebaya mereka.
    • Mereka mampu mengungkapkan perasaan mereka dengan jelas, tenang dan hormat.

    Penutup

    Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang secara sadar bertanggung jawab untuk membangun kecerdasan emosionalnya didorong untuk mengungkapkan perasaannya, didengarkan, dan dipahami.

    Pendapat anak diperhatikan, didengar, dijawab dengan penuh cinta dan dengan penghargaan tanpa syarat. Kondisi ini dapat meningkatkan kecerdasan emosional anak secara optimal.

    Mengembangkan kecerdasan emosional anak adalah proses yang berkesinambungan. Anak terus tumbuh, perkembangan emosional anak terus berlanjut, jangan lelah untuk meningkatkan kecerdasan emosi anak Anda. Dampingi, bantu mereka menjalani pengalaman dan tantangan yang dihadapi.

    Tidak peduli seberapa cerdas anak Anda secara emosional, selalu ada ruang untuk perbaikan. Dan kemungkinan akan ada beberapa pasang surut sepanjang masa kanak-kanak dan remaja. Peran orang tua dalam meningkatkan kecerdasan emosional anak dengan mendampingi mereka melaluinya.

    Seiring bertambahnya usia anak, mereka cenderung akan menghadapi rintangan yang menantang keterampilan mereka dalam menanganinya. Jadi, bantulah mereka mengembangkan keterampilan mengelola emosional mereka untuk menghadapi rintangan-rintangan tersebut.

    Gunakan kesalahan yang dilakukan anak Anda sebagai peluang untuk membangun kecerdasan emosi anak tumbuh menjadi lebih baik. Ketika mereka bertingkah karena marah atau menyakiti perasaan seseorang, luangkan waktu untuk berbicara tentang bagaimana mereka dapat berbuat lebih baik di masa depan.

    Dengan dukungan dan bimbingan Anda yang berkelanjutan, anak Anda dapat mengembangkan kecerdasan emosional dan kekuatan mental yang mereka perlukan untuk berhasil dalam kehidupan mereka di masa yang akan datang.

    Related Posts

    Posting Komentar