NhtWfPz58M7zQ3LTiasbXsSuTgl7LmPmXMtLy6Eg

Jenis Pola Asuh Orang Tua Pada Anak dan Dampaknya

Jenis Pola Asuh Orang Tua
Foto: Pavel Danilyuk [Pexels]

Istilah parenting akhir-akhir ini menjadi sorotan masyarakat. Banyaknya fenomena negatif perkembangan anak menyebabkan hal tersebut terjadi. Penyebab utamanya adalah jenis pola asuh orang tua pada anak yang kurang benar.

Pola asuh anak (parenting) adalah sebuah proses pendampingan anak yang dilakukan untuk mendampingi, mendukung, dan mengembangkan fisik, kecerdasan, emosional, hingga finansial agar seorang anak siap menghadapi dunia nantinya.

Menurut PsychCentral, tujuan parenting adalah membesarkan generasi agar dapat memberikan kontribusi untuk masyarakat. Sehingga, pengetahuan orang tua terhadap jenis pola asuh anak sangat penting dalam hal ini.

    Jenis Pola Asuh Orang Tua Tradisional

    Menurut Hurlock, Hardy, & Hayes dalam Ayun (2017) pada jurnal Thufula, ada 3 jenis pola asuh yang kerap kali dipraktikkan oleh orang tua. Diantara tiga jenis pola asuh orang tua tersebut adalah: pola asuh otoriter, permisif, dan demokratis.

    1. Pola Asuh Otoriter (Authoritarian Parenting)

    Sesuai dari namanya, jenis pola asuh otoriter adalah parenting dengan memposisikan orangtua sebagai penguasa dan pendominasi dalam proses perkembangan anak. Istilah santainya adalah; pola asuh “pokoknya harus”.

    Sehingga, hampir semua keputusan, tindakan, bahkan pemikiran anak terintervensi oleh ‘keinginan’ orang tua. Hal inilah yang menjadikan parenting ini dikategorikan tidak baik oleh para peneliti.

    Ciri-ciri pola asuh otoritatif antara lain:

    • Cenderung tegas, kaku, dan pakem dalam konteks aturan
    • Ada batas-batas tertentu saat memberikan pemahaman anak
    • Jarang terjadi diskusi sebab orang tua mendominasi
    • Memiliki ekspektasi tinggi terhadap masa depan anak
    • Ada kesan ‘orang tua pasti benar’ dan ‘anak harus patuh pada orang tua’

    Berdasarkan ciri-ciri tersebut, pola asuh otoriter sangat tidak baik untuk perkembangan anak. Dampak yang paling signifikan adalah; anak akan kesulitan menyesuaikan diri, agresif dengan perbedaan, dan sulit memiliki pendapat pribadi.

    Rata-rata orangtua yang dinilai ‘galak’, ‘menang sendiri’, ‘mengekang’, dan sejenisnya menerapkan jenis pola asuh otoriter ini. Seringkali, karena orang tua otoriter menerapkan punishment (hukuman), seorang anak terbiasa berbohong agar selamat dari hukuman tersebut.

    2. Pola Asuh Permisif (Permissive Parenting)

    Bertolak belakang dengan pola asuh otoriter, jenis permissive parenting cenderung lebih membebaskan, mengizinkan, dan melonggarkan anak. Namun, belum sampai pada taraf ‘membiarkan’. Sehingga, masih ada pantauan, bimbingan, dan komunikasi pada anak.

    Menurut Hurlock, pola asuh permisif ditunjukkan dengan adanya kecenderungan sikap yang melonggarkan. Sehingga, seorang anak tidak diberikan banyak aturan, kontrol, dan bahkan bimbingan.

    Orang tua tidak memiliki ekspektasi tinggi pada anak (bahkan ada yang tidak ada ekspektasi sama sekali).

    Ciri-ciri lain jenis pola asuh permisif antara lain:

    • Cenderung lebih banyak reward (hadiah) daripada punishment (hukuman)
    • Hampir semua keinginan anak dituruti (bahkan tanpa bimbingan sama sekali)
    • Ada kesan, ‘semua serba boleh’ dan bebas mau ngapain aja
    • Tidak ada batas-batas, aturan yang kaku, dan cenderung fleksibel

    Banyak dari masyarakat modern yang menerapkan permissive parenting ini. Dampak bagi perkembangan anak antara lain: anak menjadi pribadi yang kreatif, memiliki pengalaman banyak, tidak takut mencoba hal-hal baru, dan menjadi anak yang aktif.

    Namun, ada dampak buruk pola asuh permisif yang perlu dipahami orang tua. Antara lain: anak akan sulit diatur, egois dengan pendapatnya, memiliki sedikit empati, dan tidak siap menghadapi kesulitan yang mendadak.

    3. Pola Asuh Demokratis (Authoritative Parenting)

    Jenis pola asuh demokratis bisa dikatakan merupakan gabungan dari dua parenting sebelumnya. Jadi, authoritative parenting adalah kombinasi pola asuh otoriter dan permisif. Ada saat dimana orang tua harus tegas dan ada sisi dimana orang tua harus fleksibel.

    Menurut seorang profesional coach parenting Tery Carson, M.Ed., pola asuh demokratis adalah jenis pola asuh orang tua yang positif dan baik untuk perkembangan anak. Namun, dalam penerapannya tentu tidak mudah. Ciri-ciri dari pola demokratis antara lain:

    • Terciptanya komunikasi dan kedekatan yang baik antara orang tua dengan anak
    • Setiap aturan yang tegas, selalu diberikan penjelasan yang lugas
    • Orang tua selalu memikirkan perasaan anak ketika membimbing
    • Keseimbangan antara reward dan punishment untuk memotivasi anak
    • Meskipun memiliki ekspektasi tinggi, orang tua lebih perhatian saat mengarahkan

    Berdasarkan beberapa ciri-ciri di atas, pola asuh demokratis dinilai sangat baik untuk perkembangan anak. Dampak pola asuh demokratis antara lain; menjadikan anak taat aturan secara sukarela, percaya diri, pandai menyesuaikan diri, dan tumbuh dengan bahagia.

    Sehingga tidak heran jika jenis parenting ini sangat direkomendasikan. Sebab, orang tua harus memiliki sisi tegas agar bisa mengarahkan dan harus memiliki sisi penyayang saat membimbing. Hal tersebut penting bagi karakter seorang anak nantinya.

    Jenis Pola Asuh Orang Tua Modern

    Seiring berkembangnya zaman, banyak para pakar psikologi dan parenting yang melakukan penelitian dan memunculkan jenis-jenis pola asuh orang tua lainnya, diantaranya:

    1. Uninvolved parenting (pola asuh mengabaikan)

    Jenis pola asuh anak ini dikemukakan oleh Maccoby dan Martin.

    Sesuai dengan namanya, jenis pola asuh orang tua pada anak ini cenderung tidak memperdulikan anak. Lantas, muncul sebuah pertanyaan, “Apakah jenis parenting ini bisa dikategorikan sebagai pola asuh?

    Jawabannya; bisa. Sebab, dalam pengasuhan ini, anak masih memiliki interaksi dengan orang tua, hanya saja tidak intensif. Anak dibiarkan melakukan hal-hal yang dia inginkan tanpa ada bimbingan, penjelasan, maupun perhatian.

    Ciri-ciri pola asuh mengabaikan yang sering kali bisa dilihat antara lain:

    • Tidak ada reward and punishment sama sekali
    • Anak dibiarkan melakukan apapun untuk dirinya sendiri
    • Hampir tidak ada komunikasi intens antara orangtua dan anak
    • Adanya kesibukan padat yang dilakukan orang tua setiap hari

    Pola asuh mengabaikan ini sangat tidak baik bagi kondisi mental anak. Dampaknya, anaknya bisa saja merasakan ‘kurang kasih sayang’, penyendiri, introvert, pemalu, bahkan anti-sosial.

    2. Natural parenting (pola asuh kasih sayang)

    Jenis pola asuh kasih sayang dilakukan oleh orang tua berdasarkan tali emosional yang terjalin erat sejak kecil. Orang tua cenderung tidak memiliki ketegasan untuk memberikan hukuman pada anak, meskipun sang anak melakukan sebuah kesalahan.

    Dampaknya, anak menjadi pribadi yang manja dan sangat bergantung pada orang tua. Pada beberapa kasus, anak akan kesulitan berinteraksi dengan orang lain dan enggan untuk keluar jauh dari orang tuanya.

    3. Neglectful parenting (pola asuh sembarangan)

    Saat orangtua tidak memiliki pengetahuan yang banyak tentang parenting, pada beberapa kasus mereka sembarangan saat mendidik anak. Beberapa bahkan tidak memperhatikan emosi dari sang anak.

    Kebanyakan, anak-anak yang besar dengan cara ini acuh dengan lingkungan, tidak memiliki rencana hidup, sulit mempertimbangan suatu hal sebelum melakukan, dan tidak memiliki cita-cita.

    4. Narcissistic parenting (pola asuh popularitas)

    Pola asuh popularitas seringkali menjadikan anak sebagai subjek tuntutan. Apapun yang dilakukan anak harus bisa memberikan imbas positif pada orang tuanya. Selain itu, orang tua dengan jenis parenting ini cenderung membanding-bandingkan anaknya.

    Dampaknya, anak menjadi sulit berkembang, rendah diri, dan tertekan. Sebab pada beberapa kasus, orang tua terlalu berlebihan saat membangga-banggakan anak dan berlebihan saat memarahi anak.

    5. Overparenting (pola asuh berlebihan)

    Selain beberapa jenis pola asuh orang tua sebelumnya, ternyata ada pola asuh berlebihan. Pola asuh ini bisa dikatakan lebih buruk daripada pola asuh otoriter. Sebab, semua aspek kehidupan anak harus ada sangkut-pautnya dengan orang tua.

    Sehingga, anak tidak memiliki kemandirian, kesulitan memahami benar salah, dan tidak tahu cara menghadapi konsekuensi tindakan yang mereka lakukan sendiri. Pengasuhan anak itu sangat penting, tapi tetap tidak boleh dilakukan secara berlebihan.

    6. Toxic parenting (pola asuh kekerasan)

    Tidak hanya buruk, pola asuh kekerasan berada pada taraf bahaya. Ciri-ciri paling dominan dari pola asuh ini adalah adanya dominasi kekerasan pada anak. Pada beberapa kasus, tindakan fisik tersebut dinilai berlebihan yang menyebabkan perubahan fisik pada anak.

    Model parenting ini seringkali ditemukan pada keluarga yang bermasalah. Dampaknya sangat buruk bagi perkembangan anak. Mulai dari rasa balas dendam, emosi yang tidak terkendali, tidak punya rasa percaya diri, hingga lemah mental.

    7. Empirical Parenting (pola asuh empiristik)

    Sebagai orang tua menjadikan pengalaman sebagai panduan untuk mengasuh anak. Berdasarkan pengalaman tersebut, anak menjadi belajar bagaimana bersikap dan berkarakter. Ciri paling utama jenis pola asuh ini adalah kata-kata, “dulu itu, ayah/ibu itu ...”

    Kedekatan orang tua dan anak tentu bisa terbentuk. Namun disisi lain, pola asuh ini menjadikan wibawa orang tua sedikit turun. Selain itu, rata-rata anak yang dibesarkan dengan pola asuh ini akan meniru karakter orang tuanya sendiri dan sulit memiliki keunikan diri.

    8. Hypnoparenting (pola asus hipnotis)

    Tidak semua perkembangan anak bisa disamakan. Pada beberapa kasus, anak sulit sekali dikendalikan dengan berbagai jenis parenting. Maka dari itu, metode hypnoparenting tercipta sebagai solusi anak yang “bermasalah”.

    Ciri-ciri hypnoparenting antara lain: pemberian sugesti pada anak dan pemberian dukungan pada anak secara khusus. Dampaknya, anak akan lebih terbuka dengan masalah dan tercipta hubungan yang baik antara orang tua dan anak.

    9. Spiritual parenting (pola asuh berdasarkan agama)

    Bagi sebagian orang, spiritual parenting adalah jenis pola asuh orang tua pada anak yang terbaik. Alasannya adalah bersumber pada dalil agama dan sudah dipraktekkan secara turun-temurun oleh umat beragama.

    Ciri-ciri jenis pola asuh ini adalah adanya pendekatan agamis pada prosesnya. Misal: penanaman karakter lewat percontohan tokoh agama, mendidik anak berdasarkan dalil kitab, dan sejenisnya.

    Beberapa jenis pola asuh orang tua pada anak di atas tentu saja memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pada dasarnya, orang tua tidak perlu menerapkan semua gaya parenting di atas.

    Mana Jenis Pola Asuh Orang Tua yang Terbaik?

    Jika dinilai dari kacamata subjektif (masing-masing orang), maka jawabannya tentu beragam. Bahkan menurut beberapa orang tua, pola asuh otoriter adalah yang terbaik karena anak bisa memiliki hidup yang terencana dan berpotensi memiliki masa depan yang cerah.

    Namun, jika dilihat dari penelitian dan pendapat para ahli, jenis pola asuh orang tua yang terbaik adalah pola asuh demokratis (authoritative parenting). Alasannya:

    • Orang tua bisa mengarahkan dengan tetap melihat perasaan anak
    • Ada komunikasi interaktif, sehingga ada kehangatan relasi antara orang tua dan anak
    • Cita-cita anak sesuai dengan kemauan anak, orangtua menjadi fasilitator
    • Anak menjadi lebih sayang ke orang tua dan mengakui jasa-jasanya
    • Pembagian waktu asuh lebih longgar, sebab model parenting cenderung fleksibel

    Meskipun authoritative parenting menjadi cara pengasuhan anak yang terbaik, bukan berarti menerapkannya adalah hal yang gampang. Orang tua harus pandai-pandai memposisikan diri dan menekan ego-nya saat menerapkan pola asuh ini.

    Pola Asuh Orang Tua yang Salah

    Selain memiliki banyak model, jenis pola asuh orang tua ternyata juga ada yang salah. Titik kesalahan ini tentu saja memiliki dampak yang signifikan bagi perkembangan mental anak. Maka dari itu, orang tua harus paham terhadap hal ini.

    Ada banyak gaya pola asuh yang salah dan seringkali dilakukan, antara lain:

    1. Tidak Berkaca Pada Diri Sendiri

    Orang tua adalah cerminan anak. Jika orang tua bersikap negatif, maka jangan salahkan anak jika menirukannya. Maka dari itu, orang tua juga harus memiliki sikap yang baik agar anak menirukan kebaikan tersebut dalam hidupnya.

    Orang tua lebih baik menghindari banyak berkata-kata dan lebih banyak memperbaiki tingkah laku. Entah itu dalam tindakan, ucapan, maupun memberi keputusan. Anak cenderung memperhatikan hal tersebut daripada mendengarkan “ocehan”.

    2. Mengedepankan Ambisi

    Ada banyak orang tua yang berambisi menyukseskan anaknya, tapi lupa jika anak juga memiliki kemauan sendiri. Orang tua seringkali memaksakan kehendaknya. Akhirnya anak merasakan tekanan dan tidak sukarela saat melakukan apapun.

    3. Tidak Mengenalkan ‘Gagal’

    Sangat salah jika orang tua menuntut anaknya terus berhasil. Sebab hal tersebut adalah sebuah hal yang mustahil. Orang tua harus mengenalkan kegagalan pada anak dan mengajarkan untuk terbiasa dengan hal tersebut.

    Sehingga, di masa depan, ia menjadi anak yang memiliki rasa percaya diri untuk mencoba hal-hal baru. Anak yang terbiasa dengan kegagalan, mustahil akan menyerah jika dihantam banyak kesulitan.

    4. Tidak Percaya Pada Anak

    Pola asuh orang tua yang salah lainnya adalah masalah ‘kepercayaan’. Setiap anak pasti ingin orang tuanya percaya bahwa dirinya bisa. Anak lebih cenderung menunjukkan perilaku-perilaku yang deklaratif untuk membuktikan keberdayaannya melakukan sesuatu.

    Tugas orang tua saat anak melakukan hal tersebut adalah percaya. Namun, tetap harus ada bimbingan dan pengarahan. Semakin tinggi kepercayaan orang tua pada anak, semakin tinggi pula kasih sayang anak kepada orang tua.

    5. Lupa Memberikan Hadiah

    Menurut Bandura lewat teori pembelajaran sosial, reward dan punishment sangat penting diterapkan dalam parenting. Hal tersebut berguna untuk menciptakan motivasi positif pada diri anak.

    Namun, kebanyakan orang tua saat ini sering memberikan punishment dan lupa memberikan reward. Padahal, jika dua hal tersebut tidak seimbang, maka akan berdampak buruk pada perkembangan motivasi anak.

    6. Menggunakan Fisik saat Menghukum

    Pada saat-saat tertentu, hukuman fisik mungkin saja diperlukan. Terlebih pada kesalahan-kesalahan ‘fatal’ anak. Itu pun harus terukur dan tidak boleh sampai membekas. Namun, hal tersebut sangat perlu dihindari.

    Cara mengasuh anak dengan cara kekerasan efeknya sangat buruk. Selain bisa merusak masa kecil mereka, pola asuh ini bisa membekas dalam benak anak dan melahirkan dendam. Kebencian anak pada orang tua sangatlah tidak baik bagi kondisi psikologis anak.

    Penutup

    Mengasuh anak memang bukanlah perkara yang mudah dilakukan. Dilihat dari kacamata manapun, parenting adalah tugas terberat orang tua dalam mempersiapkan anak-anaknya. Maka dari itu, bekal pengetahuan tentang tipe pola asuh sangat penting dimiliki.

    Semoga sedikit penjelasan mengenai jenis pola asuh orang tua pada anak di atas berguna untuk pembaca. Dapat disimpulkan jika ilmu parenting sangat penting dipahami dan diterapkan demi kebaikan dan kematangan anak menyongsong masa depannya.

    Related Posts

    Posting Komentar