NhtWfPz58M7zQ3LTiasbXsSuTgl7LmPmXMtLy6Eg

Mengembangkan Kecerdasan Emosional Anak dengan Dongeng

Mengembangkan kecerdasan emosional anak dengan dongeng CAS CIS CUS

Usia dini merupakan usia emas, golden age. Terlalu mahal untuk dilewatkan. Di usia ini Anda bisa membangun fondasi bagi kehidupan si kecil selanjutnya. Diantaranya mengembangkan kecerdasan emosionalnya.

Kecerdasan emosi merujuk pada kemampuan dalam mengelola emosi, bagaimana memberikan respon positif atas kondisi-kondisi yang merangsang munculnya emosi.

Banyak cara dalam mengembangkan kecerdasan emosional anak, salah satunya mendongeng dengan menggunakan teknik CAS CIS CUS.

Kok dongeng? Saya kan nggak bisa mendongeng …

Oke. Jangan tutup dulu!

Anda jangan berfikir harus menjadi seperti Awam Prakoso, yang akrab dipanggil Kak Awam. Pendongeng dengan segudang prestasi.

Dengan metode CAS CIS CUS, Anda yang tadinya tidak bisa mendongeng menjadi mahir mendogeng, setidaknya untuk buah hati Anda.

Langkah awal, baca tulisan ini sampai selesai …

Dibalik anak cerdas, ada orang tua yang cerdas …

    Bagaimana Menjadi Orang Tua yang Cerdas?

    Sebelumnya jawab pertanyaan berikut;

    Pertanyaan 1

    • Anda percaya anak-anak harus mengikuti aturan yang Anda buat, tanpa kecuali.
    • Anda tidak mau tahu alasan anak, ketika mereka mempertanyakan aturan yang Anda buat.
    • Anda tidak mempertimbangkan perasaan anak Anda.

    Jika salah satu pernyataan itu benar, Anda punya kecenderungan sebagai orang tua yang otoriter.

    Orang tua otoriter menggunakan disiplin yang keras dan sering menggunakan hukuman yang keras, seperti hukuman fisik, sebagai cara untuk mengendalikan perilaku anak-anak.

    Akibatnya, anak dapat tumbuh menjadi pembohong yang baik dalam upaya menghindari hukuman. Mereka juga bisa memiliki sifat yang agresif dan bermusuhan.

    Aturan yang memaksa tanpa mempertimbangkan perasaan anak akan meningkatkan resiko masalah harga diri pada anak.

    Pertanyaan 2

    • Anda menetapkan aturan tetapi jarang menegakkannya.
    • Anda tidak terlalu sering memberikan konsekuensi pada anak.
    • Anda pikir biarkan anak tumbuh dengan sedikit campur tangan dari Anda.

    Jika pernyataan itu ada dalam diri Anda. Ini adalah ciri orang tua yang permisif. Orang tua yang bersikap lunak, sangat longgar, dengan sedikit hukuman atau aturan.

    Orang tua yang permisif lebih banyak berusaha menjadi "teman" bagi anak mereka, dan sedikit sekali memainkan peran sebagai orang tua.

    Mereka tidak menuntut anak untuk mengatur dirinya sendiri atau berperilaku dengan tepat.

    Mereka memanjakan anak, memberikan apa yang diinginkan anak. Tidak berani mengatakan “tidak” pada anak karena takut mengecewakan.

    Anak-anak tidak pernah belajar untuk mengendalikan perilaku mereka sendiri dan selalu berharap untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.

    Anak-anak dengan orang tua yang permisif tingkat kedewasaannya rendah, tidak memiliki kontrol diri dan tidak bertanggung jawab.

    Mereka cenderung kesulitan secara akademis karena tidak bisa mengikuti aturan. Bermasalah dengan perilaku serta dalam hubungan dan interaksi sosial.

    Pertanyaan 3

    • Anda berusaha menciptakan dan mempertahankan hubungan yang positif dengan anak Anda.
    • Anda menjelaskan apa alasan dibalik aturan yang Anda buat.
    • Anda menegakkan aturan dan memberikan konsekuensi, tetapi tetap mempertimbangkan perasaan anak Anda.

    Jika pernyataan itu terdengar familier, Anda mungkin orang tua yang otoritatif, berwibawa.

    Orang tua yang otoritatif memiliki harapan yang tinggi pada prestasi dan kedewasaan, tetapi mereka juga hangat dan responsif.

    Mereka menetapkan aturan dan menegakkan batasan dengan diskusi terbuka, memberikan bimbingan dan menggunakan penalaran.

    Mereka memberikan anak-anak mereka alasan dan penjelasan atas tindakan mereka. Penjelasan ini memungkinkan anak-anak untuk memiliki kesadaran, dan mengajar anak-anak tentang nilai-nilai, moral, dan tujuan.

    Metode disiplin mereka bersifat konfrontatif, yaitu beralasan, dapat dinegosiasikan, berorientasi pada hasil, dan berkaitan dengan aturan dalam berperilaku.

    Orang tua otoritatif penuh kasih sayang dan mendukung. Mereka memberi anak-anak mereka otonomi dan mendorong kemandirian.

    Mereka juga memungkinkan komunikasi dua arah.

    Pola asuh ini sering disebut juga dengan gaya asuh demokratis.

    Nah, Anda type orang tua yang mana? Jika Anda orang tua yang otoritatif, selamat! Anda adalah orang tua yang cerdas.

    Bagaimana dengan type orang tua otoriter dan permisif?

    Tunggu! Jangan buru-buru pergi …

    Dengan metode dongeng CAS CIS CUS, Anda dengan si kecil bisa bersama-sama membangun diri menjadi orang yang cerdas. Kok bisa? Bagaimana caranya …

    Mengembangkan Kecerdasan Emosional Anak dengan Dongeng

    Penelitian di bidang neurosains menunjukkan bahwa, kecerdasan sangat ditentukan oleh otak. Dengan memberikan stimulus-stimulus yang tepat akan mencerdaskan otak, bukan hanya kecerdasan intelektual, tetapi juga emosional, sosial, spiritual dan kecerdasan lainnya.

    Perasaan senang, lingkungan yang demokratis, penerimaan anak apa adanya, dan perhatian dibutuhkan untuk merangsang kecerdasan otak. Salah satunya dengan kegiatan mendongeng.

    Setiap anak pasti suka dongeng, apalagi disampaikan dengan cara yang menarik. Daya kreatif dan imajinatif bisa dirangsang dengan isi cerita dalam dongeng.

    Dongeng yang dipilih bukan sekedar dongeng biasa. Bukan dongeng nina bobok sebagai pengantar tidur. Tema, alur, latar, dan karakter tokoh dalam dongeng harus mengandung pesan moral yang bisa merangsang aktivitas otak emosional anak.

    Dongeng digunakan untuk penanaman nilai karakter, pendidikan moral, dan menyampaikan nilai karakter yang baik.

    Nilai lebih pada dongeng, yang disukai anak-anak, menjadikan pengajaran konsep nilai baik dan buruk mudah diterima anak-anak, karena tidak adanya paksaan dan tekanan. Sehingga anak-anak menerima konsep tersebut dengan perasaan senang.

    Anak-anak mendapatkan kesempatan untuk berfikir dan memprosesnya, sehingga konsekuensi dari perilaku baik-buruk dapat diterima anak-anak sesuai dengan kemampuan kognitifnya.

    Tujuan akhirnya, anak dapat meneladani atau mengikuti jejak karakter tokoh yang baik dan meninggalkan karakter tokoh yang tidak baik.

    Bagaimana Dongeng Bisa Mengembangkan Kecerdasan Emosional Anak?

    Bercerita atau mendongeng merupakan salah satu cara berkomunikasi yang efektif antara orang tua dengan anak. Di dalam mendongeng terjalin interaksi yang aktif dan kreatif antara pendongeng dengan pendengar.

    Aktivitas mendongeng mendorong proses pembelajaran emosional anak, diantaranya;

    • Mendongeng melibatkan relasi erat antara orang tua dengan anak. Ini mendorong anak untuk belajar mencintai dan dicintai. Bagaimana menjadi orang yang pantas dicintai, dan bagaimana mencintai orang secara pantas sesuai norma dan etika.
    • Karakter tokoh dan dialog antar tokoh dalam dongeng membuat anak belajar mengenali, mengelola, dan mengontrol emosi.
    • Dongeng memiliki kandungan nilai-nilai sesuai dengan isi cerita. Ketika mendongeng, pada saat itulah sesungguhnya Anda sedang menyampaikan dan menawarkan nilai-nilai moral pada anak.
    • Isi dalam cerita mengandung pesan, nilai-nilai dan pemihakan yang jelas atas nilai-nilai tersebut. Ini mendorong anak belajar membuat pilihan nilai-nilai yang baik dalam kehidupan sehari-hari, sesuai dengan perkembangan kognitif dan emosional anak.
    • Gaya mendongeng yang enak, tidak membosankan, dan penuh penghayatan akan mampu merangsang empati dan simpati anak terhadap tokoh-tokoh dalam cerita. Dengan sendirinya, anak akan belajar bagaimana mengembangkan empati dan simpati.

    Jadi, ketika Anda mendongeng, Anda pun ikut mengembangkan kecerdasan emosional Anda bersama-sama dengan si kecil.

    Asyik kan …

    Bagaimana Mendongeng dengan Teknik CAS CIS CUS?

    Tradisi dongeng sudah ada sejak dulu. Cerita dengan tokoh hewan, seperti si kancil, atau tokoh manusia, si Kabayan atau Abu Nawas, menjadi cerita yang populer pada jaman dahulu.

    Seiring dengan perkembangan masyarakat dan perubahan sosial budaya, cerita anak pun berkembang menyesuaikan perubahan.

    Teknik mendongeng pun berkembang, tujuannya agar pesan moral dapat dengan mudah diserap oleh anak. Salah satunya CAS CIS CUS.

    CAS CIS CUS membagi aktivitas mendongeng menjadi tiga tahapan; pembuka, inti, dan penutup.

    CAS (Cipta Aksi Super)

    CAS dilaksanakan pada awal atau pembukaan dengan aksi-aksi yang menarik perhatian anak. Kegiatan awal ini bertujuan untuk;

    • Focusing anak
    • Mempersiapkan secara psikologis dan fisik anak untuk mengikuti kegiatan mendongeng.
    • Mengaitkan pengalaman yang telah dimiliki anak-anak dengan nilai-nilai yang akan diterima dalam isi cerita.

    Kegiatan CAS bisa diawali dengan berdoa, menyampaikan topik, gambaran cerita secara global, tujuan dan manfaat dari aktivitas mendongeng.

    Kegiatan ini bisa juga dilakukan dalam bentuk aktivitas fisik, seperti gerakan dan nyanyian yang sesuai dengan topik cerita.

    CIS (Cipta Inspirasi Super)

    CIS sebagai bagian inti dari mendongeng berupa serangkaian aktivitas pendongeng dengan pendengar, antara orang tua sebagai pendongeng dengan anak sebagai pendengar.

    Saat mendongeng, lakukan interaksi multiarah dengan media yang sesuai topik cerita. Jangan berdiri pada satu titik, tetapi dapat berpindah tempat menyesuaikan dengan latar cerita.

    Sajikan cerita sesuai alur dengan penekanan pada penokohan; sifat-sifat tokoh, interaksi antar tokoh, pergulatan emosi tokoh, dan perbandingan sifat tokoh antagonis dan protagonis.

    Ilustrasikan sifat tokoh dengan orang-orang dalam kehidupan sehari-hari, dan diselingi simulasi meniru apa yang dilakukan tokoh dalam cerita.

    Berikan kesempatan anak untuk memberikan komentar kritis atas simulasi tokoh, identifikasi dan membandingkan sifat tokoh dengan orang-orang disekitar anak.

    Cipta Inspirasi Super ini dapat dilakukan dengan berbagai kegiatan diantaranya ekspresi wajah, gesture tubuh, blocking posisi, intonasi suara, variasi suara dan media pendukung.

    CUS (Cipta Usulan Super)

    CUS adalah bagian penutup dari kegiatan mendongeng, aktivitas yang dapat dilakukan berupa;

    • Memberikan kesempatan kepada anak menceritakan kembali cerita dalam dongeng.
    • Tanya jawab untuk memahami isi dan penokohan dalam cerita.
    • Menarik kesimpulan bersama.
    • Internalisasi nilai-nilai yang dapat diambil dari perilaku yang diperankan tokoh dalam cerita.

    Tujuan kegiatan ini untuk memberikan stimulus dan penguatan pada anak agar mencontoh perilaku yang baik dari tokoh dalam cerita, dan pemahaman pada konsekuensi perilaku buruk dari tokoh dalam kehidupan sehari-hari.

    Sebagai penutup dari semua tahapan mendongeng, lakukan kegiatan yang menyenangkan dengan permainan, bernyanyi. Terakhir tutup dengan doa.

    Kesimpulan

    Dongeng dengan dialog antar tokoh menyajikan banyak contoh karakter kehidupan yang dapat mengembangkan aspek-aspek kecerdasan emosional, khususnya pada anak usia dini.

    Aspek kecerdasan emosional dapat berkembang melalui proses modeling, meniru kehidupan para tokoh dalam alur, perwatakan, maupun dialog-dialog yang tersaji dalam cerita.

    Isi cerita yang mengandung pesan moral dapat ditiru anak dalam kehidupan sehari-hari, sesuai dengan usia anak. Pesan moral bisa diterima anak dengan senang hati, tanpa paksaan dan tekanan dari orang tua.

    Mendongeng mendorong interaksi yang hangat antara orang tua dengan anak. Merangsang keaktifan, kreativitas, dan daya imajinasi anak, serta merangsang aktivitas otak emosional anak. Pada akhirnya, kecerdasan emosional anak akan tumbuh dan berkembang dengan baik. Inilah faktor utama dalam mengembangkan kecerdasan emosional anak.

    Selamat mencoba!

    Jangan lupa bagikan pengalaman Anda dengan si kecil pada kolom komentar.

    Terimakasih. Salam cerdas …

    Related Posts

    Posting Komentar