NhtWfPz58M7zQ3LTiasbXsSuTgl7LmPmXMtLy6Eg

Tantangan Orang Tua di Era Digital, Bagaimana Menyikapinya?

Tantangan Orang Tua di Era Digital

Di era digital, dunia maya dan dunia nyata kini seakan tidak ada bedanya. Bagaimana tidak, apa yang bisa dilakukan di dunia nyata bisa dilakukan juga di dunia maya, mulai dari yang serius, untuk mengisi waktu luang, atau sekedar iseng.

Dampak era digital bagi pendidikan dan pengasuhan anak pun semakin terasa. Ini menjadi tantangan orang tua di era digital, bagaimana mendidik anak digital native.

Gadget dan internet bak pisau bermata dua, banyak manfaat yang bisa diperoleh anak. Namun, jika anak “tenggelam” di dunia maya bisa merusak masa depan anak. Kecanduan game online, misalnya.

Lantas, tantangan apa saja yang akan dihadapi orang tua dalam mendidik anak di era digital?

    Tantangan Internet bagi Orang Tua

    Banyak orang tua yang menyadari bahwa internet memiliki pengaruh buruk bagi anak, namun mereka menjadi “serba salah” dalam menyikapinya, apalagi di masa pandemi. PPKM mengharuskan anak belajar dari rumah, mau tidak mau orang tua harus menyediakan akses internet.

    Ada baiknya Anda sebagai orang tua memahami apa saja tantangan internet bagi orang tua dan bagaimana menyikapinya.

    1. Kemudahan akses internet

    Semakin banyak piranti yang mudah terkoneksi internet, memudahkan anak untuk online. Ini menjadi tantangan pertama bagi orang tua di era digital.

    Saat Anda memberikan akses internet, barengi juga dengan memberikan pengetahuan anak supaya melek digital. Agar anak cakap secara kognitif maupun teknis dalam menggunakan gadget untuk berselancar di dunia maya.

    Yang paling penting, dampingi anak saat online jika memungkinkan. Kalaupun tidak bisa setiap saat, luangkan sedikit waktu Anda mendampingi mereka, atau setidaknya menanyakan aktivitas anak berselancar di dunia maya.

    2. Bebas online tanpa aturan

    Ketika anak terkoneksi internet, anak bebas berselancar kemana saja yang ia mau. Tanpa pengawasan dan aturan dari oran tua, anak akan leluasa membuka situs, media sosial, gambar, video, dll. Akibatnya, anak akan mendapatkan informasi tanpa adanya filter.

    Buatlah aturan bersama dengan seluruh anggota keluarga dalam menggunakan internet. Kapan, berapa lama, dan situs-situs apa saja yang boleh dan tidak boleh dibuka.

    Aturan yang dibuat tidak hanya untuk anak, mengikat seluruh anggota keluarga, termasuk Anda sebagai orang tua. Jadilah teladan bagi keluarga Anda bagaimana menggunakan internet yang baik.

    3. Anak tahu lebih banyak dibanding orangtuanya

    Tantangan orang tua di era digital terberat adalah bagaimana mengimbangi pengetahuan dan kemampuan teknis anak dalam berselancar di dunia maya.

    Semakin dini mengenal gadget dan internet, anak semakin cepat menguasai cara berselancar di dunia maya melebihi orangtuanya. Mau tidak mau Anda harus ikut meng-upgrade kemampuan teknis dan wawasan Anda tentang dunia maya agar tidak tertinggal dari anak.

    Semakin cakap Anda, semakin baik dalam pengawasan. Jangan sampai Anda “dikadali” anak karena ketidaktahuan Anda. Ibarat guru, sebelum mendidik anak di era digital, didiklah diri Anda terlebih dahulu dengan literasi digital.

    4. Dunia User-Generated Content

    Internet membuat dunia menjadi “terbuka”. Internet menyediakan tempat kepada semua orang, termasuk anak-anak, untuk menciptakan konten, menaruh, dan menyebarkannya. Sayangnya, kemudahan ini tidak diimbangi dengan pemahaman anak tentang etika di dunia maya.

    Bimbing anak Anda untuk berfikir secara kritis tentang apa yang sebaiknya mereka posting, sharing, baca, dan lihat di internet. Arahkan anak untuk membuat konten kreatif yang bermanfaat bagi banyak orang.

    5. Anak menginginkan privasi

    Tantangan orang tua di era digital yang terakhir ini akan muncul setelah anak menikmati berselancar di dunia maya. Semakin lama dan sering online, anak mulai menginginkan privasi. Anak tidak mau orang lain mengetahui aktivitas online mereka. Seringkali permasalahan ini menimbulkan ketegangan antara anak dengan orang tua.

    Jika Anda mulai merasa khawatir dengan aktivitas online anak, cari waktu yang tepat. Sampaikan kekhawatiran Anda dengan cara yang baik, diskusikan bersama anak bagaimana solusinya. Sehingga anak merasa nyaman dan tidak merasa diperlakukan overprotective.

    Tantangan Media Sosial bagi Orang Tua

    Penggunaan media sosial bagi anak adalah sebuah keniscayaan seiring dengan kemudahan akses internet. Tidak terkecuali penggunaan media sosial bagi anak dibawah umur.

    Hasil riset NeuroSensum menunjukkan bahwa, rata-rata anak Indonesia mengenal media sosial sejak usia dini, yaitu 7 tahun. Alasannya, agar anak sibuk sehingga orang tua bisa fokus menyelesaikan pekerjaan mereka.

    Pertanyaan selanjutnya, kapan sebaiknya Anda mengijinkan anak mempunyai media sosial?

    Tidak ada pedoman baku batas usia anak menggunakan media sosial. Beberapa ahli memberikan batasan ideal di usia 12 tahun. Beberapa ahli lain menyatakan 14 tahun. Tetapi mereka sepakat, semakin lama Anda menahan diri untuk tidak mengijinkan anak, maka semakin baik.

    Kalaupun anak Anda sudah merengek minta gadget dan Anda ingin mengabulkannya, sebaiknya perlu didiskusikan dahulu pada anak hal berikut;

    1. Diskusikan kebutuhan

    Ketika anak menginginkan gadget dan akses internet, perlu dibicarakan bersama untuk kebutuhan apa dia meminta gadget sendiri. Disinilah Anda bisa menerapkan pengasuhan positif di era digital, jangan khawatir dianggap gagap teknologi atau “kuno”.

    Pahamkan pada anak bahwa membeli barang itu harus sesuai kebutuhan, bukan karena ikut tren atau latah. Belikan gadget sesuai kebutuhan anak, karena tidak semua fitur canggih bisa digunakan anak secara optimal.

    Diskusikan juga secara tuntas berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli gadget dan kuota internet setiap bulannya. Apakah tidak sebaiknya uang tersebut untuk kebutuhan lain yang lebih penting buat anak.

    Dari sinilah pilar utama pengasuhan di era digital bisa terbangun, yakni komunikasi antara orang tua dengan anak.

    2. Diskusikan tanggung jawab

    Sebelum anak menggunakan media sosial, diskusikan tanggung jawab yang harus dipenuhi anak. Pastikan terlebih dahulu kesepakatan aturan penggunaan dan konsekuensinya.

    Berikan batasan yang tegas saat bermedia sosial, baik waktu, jenis media sosial, dan konten yang diposting. Serta konsekuensi jika anak melanggar, misalnya larangan menggunakan gadget dalam jangka waktu tertentu, atau menyitanya jika disalahgunakan.

    Buat juga kesepakatan bahwa Anda berhak menanyakan untuk apa dan bagaimana media sosial tersebut digunakan, serta memeriksa isi media sosial mereka.

    3. Diskusikan resiko menggunakan media sosial

    Diskusikan bersama anak tentang penyalahgunaan, resiko, atau dampak negatif dari penggunaan media sosial. Bagaimana cara mencegah dan menghindarinya.

    Tekankan kepada anak untuk menyampaikan kepada orang tua tentang apa saja atau hal-hal yang membuat anak merasa tidak nyaman di media sosial.

    Anda juga harus peka terhadap perubahan pada diri anak setelah menggunakan media sosial, seperti murung, mengurung diri di kamar, malas belajar, dan perubahan perilaku anak lainnya. Segera tanyakan penyebabnya pada anak dan diskusikan solusi untuk mengatasinya.

    Menjaga Privasi Anak Saat Online

    Tantangan orang tua di era digital berikutnya adalah mendidik anak untuk selalu menjaga privasi saat online.

    Anak, sesuai dengan usianya, memiliki rasa ingin tahu yang kuat, apalagi saat berselancar di internet. Sayangnya, banyak orangtua yang merasa bangga melihat anaknya lancar berinternet-ria tanpa menyadari bahayanya.

    Peran orang tua dalam mendidik anak di era digital salah satunya dengan memberikan pemahaman tentang bahaya di dunia maya, seperti bullying atau predator dunia maya, yang mengincar pengguna internet pemula dan anak-anak.

    Orang tua perlu memberikan pemahaman pentingnya menjaga privasi untuk keamanan mereka. Langkah awal, dengan persetujuan anak, mintalah akses masuk ke media sosial mereka untuk memantau aktivitasnya.

    Berikutnya, selalu ingatkan anak pada hal berikut saat online:

    1. Go private

    Mengaktifkan mode private sebagai salah satu cara untuk melindungi privasi anak di media sosial. Cara ini untuk memastikan hanya follower yang bisa melihat unggahan anak.

    2. Memasang profil secukupnya

    Pasang profil secukupnya di media sosial. Jangan cantumkan alamat email, nomor telepon, alamat rumah, atau identitas lainnya yang bisa disalahgunakan orang yang mempunyai niat tidak baik.

    3. Rahasiakan username dan password

    Username dan password media sosial anak hanya boleh diberitahukan pada orang tua, jangan diberikan pada orang lain.

    Seringkali anak suka gonta-ganti piranti atau gadget dengan teman saat online. Ingatkan anak untuk tidak melakukan hal tersebut, tujuannya untuk menjaga kerahasiaan username dan password mereka.

    4. Posting foto atau video tidak pantas

    Jangan posting foto atau video pribadi dengan pose terbuka. Seringkali anak secara tidak sadar update atau sharing foto atau video yang tidak pantas untuk seusia mereka. Biasanya ini dilakukan untuk mengikuti tren, pingin terkenal, atau mengikuti idola mereka.

    Ingatkan resiko yang terjadi pada mereka jika anak melakukan hal tersebut.

    5. Curhat di media sosial

    Tantangan orang tua di era digital adalah bagaimana Anda bisa menjadi teman dekat dan tempat anak curhat masalah yang dialaminya. Seringkali anak lebih senang curhat di media sosial karena takut dengan orang tua dan merasa lebih bebas.

    Ingatkan anak untuk curhat pada Anda, bukan di media sosial. Ketika mereka curhat di media sosial, masalah akan tersebar luas dan dibaca banyak orang. Alih-alih bisa menyelesaikan masalah, bisa jadi malah membuka aib sendiri, bahkan aib keluarga.

    6. Selektif memilih teman

    Lebih selektif saat approve atau add teman, pastikan hanya orang yang dikenal yang diajak pertemanan. Kalaupun ingin menambahkan orang yang belum dikenal, setidaknya atas rekomendasi orang yang sudah dikenal.

    7. Komunikasi dengan orang tua

    Tekankan pada anak untuk berbicara pada Anda jika mereka merasa terganggu, terancam, dan tidak nyaman di media sosial. Selanjutnya diskusikan bersama bagaimana cara mengatasinya.

    Mewaspadai Perubahan Perilaku Anak Saat Menggunakan Internet

    Internet ibarat hutan belantara yang dapat menyesatkan siapapun, apalagi jika tidak memiliki panduan saat menjelajahinya, terlebih lagi pada anak-anak.

    Anak-anak merupakan golongan yang paling rentan menjadi korban kejahatan dunia maya. Waspadai perubahan perilaku anak saat online. Ini bisa menjadi sinyal adanya bahaya yang mengintai anak Anda.

    Menjadi tantangan orang tua di era digital untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku anak. Berikut perubahan perilaku anak yang patut Anda waspadai sebagai sinyal bahaya aktvitas online anak.

    1. Menerima pesan yang tidak biasa

    Jika anak Anda menerima pesan yang tidak biasa, seperti iming-iming hadiah, Anda patut curiga bahwa anak telah mengirimkan informasi pribadi.

    Ingatkan anak Anda untuk tidak sembarangan mengirimkan informasi pribadi, seperti email, nomor telepon, atau alamat rumah. Pahamkan pada mereka resiko dari pengiriman informasi tersebut.

    2. Menutup layar dengan cepat

    Waspadai ketika anak menutup layar dengan cepat saat Anda mendekatinya. Cari tahu mengapa mereka melakukan itu. Bisa jadi anak melakukannya karena takut ketahuan kalau membuka situs web yang tidak pantas untuk anak seusianya.

    Perlu pertimbangkan juga untuk memasang aplikasi parental control pada piranti yang dipakai anak akses internet, untuk menghindarkan anak dari situs-situs web yang berbahaya bagi mereka.

    3. Akses internet tengah malam

    Jika anak mengakses internet tengah malam, saat anggota keluarga lainnya tertidur, Anda patut waspada. Bisa jadi anak mencuri waktu untuk mengakses situs web yang tidak pantas, dan mereka tidak ingin Anda mengetahuinya.

    4. Mengubah atau merahasiakan password

    Anda, sebagai orang tua, sebaiknya tahu dan menyimpan username dan password yang dipakai anak. Jika anak mengubah password dan merahasiakannya dari Anda segeralah cari tahu alasannya. Bisa jadi anak berusaha menyembunyikan aktivitas mereka di media sosial.

    5. Menggunakan komputer atau gadget di luar rumah

    Jika anak mulai jarang menggunakan komputer atau gadget di rumah, Anda patut waspada. Komputer atau wifi di tempat umum, seperti warnet, biasanya memberikan akses internet yang tidak terbatas, tanpa filter.

    Dampingi mereka saat akses internet di luar rumah, atau setidaknya cari tahu aktivitas online apa yang mereka lakukan saat di luar rumah.

    6. Mulai menjauhi keluarga atau teman-temannya

    Waspadai ketika anak mulai memisahkan diri dari keluarga atau teman-temannya. Pelaku kejahatan dan predator online sekarang ini banyak bergentayangan di media sosial. Modusnya, mereka berusaha menarik anak dalam pengaruhnya dan memisahkan mereka dari keluarga dan teman-temannya.

    7. Menyimpan file, foto, atau video tidak senonoh

    Periksa secara acak komputer, laptop, atau gadget yang dipakai anak. Jika Anda menemukan file, foto, dan gambar yang mencurigakan atau tidak senonoh. Segera cari tahu darimana asalnya, jika berasal dari situs-situs internet segera blokir situs tersebut.

    Bilamana perlu, laporkan pada pihak berwajib jika Anda mengetahui identitas pengirim file, foto, atau video tidak senonoh tersebut. Selain menjaga anak Anda, tindakan ini bisa menjaga anak-anak lain menjadi korban.

    8. Menerima telepon dari nomor tidak dikenal

    Waspadai ketika anak mulai mendapatkan telepon dari nomor yang tidak dikenal. Untuk memuluskan aksinya, biasanya penjahat dan predator online akan menghubungi calon korbannya via telepon.

    Gelagat lain yang patut diwaspadai adalah ketika anak menerima telepon dengan berbisik, atau menerima telepon di tempat sepi.

    9. Menerima foto atau paket dari orang yang tidak dikenal

    Modus predator online salah satunya dengan mengirimi calon korbanya foto atau paket yang berupa hadiah. Tujuannya untuk mendapatkan kepercayaan dari calon korbannya.

    Jika menjumpai kejadian seperti ini pada anak Anda, berhati-hatilah, ambil tindakan segera untuk menghindarkan anak Anda dari hal-hal yang lebih buruk terjadi.

    10. Anak pergi tanpa pamit

    Waspadai ketika anak mulai mencari-cari alasan untuk bisa pergi ke luar rumah, diam-diam tanpa pamit orang tua. Segera cari tahu kemana, dengan siapa, atau menjumpai siapa saat anak ke luar rumah.

    Bilamana perlu buntuti anak saat mereka pergi ke luar rumah, agar tidak terjadi hal-hal yang buruk pada anak. Bisa jadi mereka keluar rumah untuk menemui orang yang dikenalnya melalui media sosial.

    Menjaga Anak Tetap Aman di Dunia Maya

    Bagi anak-anak generasi digital, sulit untuk menjauhkan mereka dari gadget dan internet. Peran orang tua adalah menjaga bagaimana anak tetap aman dan nyaman di dunia maya.

    Berikut yang bisa dilakukan orang tua untuk menjaga anak tetap aman dan nyaman berselancar di dunia maya.

    1. Masuk ke dunia online anak

    Selayaknya di dunia nyata, orang tua harus mengenal “teman bermain” anak di dunia maya, dan apa aktivitas mereka saat online.

    Masuklah ke dunia online mereka agar anak tetap merasa aman dan nyaman saat berselancar di dunia maya.

    2. Buat aturan

    Buatlah aturan untuk membatasi aktivitas online anak. Kapan dan berapa lama waktu online, situs-situs web apa saja yang boleh dan tidak boleh dibuka.

    Bicarakan bersama anak Anda aturan-aturan tersebut beserta konsekuensinya jika dilanggar. Buat komitmen dengan anak tentang aktivitas mereka di dunia maya.

    3. Ajarkan anak untuk melindungi privasinya

    Di usia mereka, anak-anak belum memahami konsekuensi mengumbar informasi pribadi di dunia maya. Salah satu peran orang tua dalam mendidik anak di era digital adalah memberikan pemahaman pentingnya menjaga privasi dengan menghindari tindakan berikut:

    • Memberikan email, nomor telepon, alamat rumah, sekolah, foto, atau informasi pribadi lainnya pada orang yang tidak dikenal tanpa seijin orang tua.
    • Membuka atau membalas pesan email dari orang yang tidak dikenal.
    • Membuka link yang tidak dikenal.
    • Merespon pesan yang mengganggu, tidak menyenangkan, atau yang membuat anak merasa tidak nyaman.
    • Menolak ajakan bertemu orang yang tidak dikenal melalui internet atau media sosial.

    4. Lokasi online

    Untuk memudahkan mengawasi aktivitas online anak, mintalah pada anak untuk akses internet di rumah, atau berada dalam jangkauan pengawasan orang tua. Hindari anak akses internet di luar rumah atau warnet.

    5. Jadilah sahabat

    Tantangan orang tua di era digital selanjutnya adalah bagaimana menjadi sahabat bagi anak di dunia nyata maupun di dunia maya.

    Beritahu anak untuk menyampaikan apa saja yang membuat mereka tidak nyaman, baik saat berinteraksi dengan teman sekolah, teman bermain, atau saat berselancar di dunia maya.

    Jadilah pendengar yang baik bagi anak, yakinkan pada mereka bahwa Anda tidak akan menyalahkan atau melarang mereka menggunakan internet sepanjang mereka terbuka pada Anda, apa yang mereka lakukan di dunia maya.

    6. Setting mesin pencari

    Aktifkan SafeSearch Filtering di mesin penelusuran untuk menyaring dan memblokir situs-situs web yang tidak pantas untuk anak.

    Blokir juga tampilan iklan dengan install aplikasi pemblokir iklan, seringkali secara otomatis muncul iklan yang tidak pantas saat anak membuka situs web.

    7. Kenali situs dan aplikasi yang aman untuk anak

    Kenali situs dan aplikasi yang cocok untuk anak Anda dengan konten-konten yang bervariasi, baik vidio, film, musik, ilmu pengetahuan, atau konten umum yang aman dan menyenangkan bagi anak.

    Berikan panduan searching pada anak. Jangan biarkan anak mencari-cari sendiri, alih-alih anak mendapatkan konten yang bermanfaat baginya, kalau tidak hati-hati, mereka akan mendapatkan konten yang merusak bagi perkembangan anak.

    Mendidik Anak di Era Digital

    Perkembangan teknologi digital memunculkan generasi digital. Pola asuh orang tua pun ikut berubah. Menjadi tantangan bagi orang tua dalam mendidik anak di era digital. Dari sinilah pentingnya parenting di era digital.

    Peran orang tua dalam mendidik anak di era teknologi digital dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya sebagai berikut:

    1. Menambah wawasan dan pengetahuan

    Orang tua akan kesulitan dalam mendampingi, membimbing, atau menerapkan aturan penggunaan teknologi digital jika tidak memahami perkembangan teknologi digital, internet, maupun media sosial, dan bagaimana cara menggunakannya.

    Upgrade selalu wawasan dan pengetahuan Anda terhadap teknologi digital, setidaknya mengetahui bagaimana cara memproteksi situs web dan media sosial yang memberikan dampak negatif bagi anak.

    2. Mengarahkan penggunaan perangkat dan media digital

    Pahami dampak positif maupun negatif penggunaan perangkat digital, internet, maupun media sosial bagi anak, sehingga Anda dapat mengarahkan penggunaannya dengan tepat sesuai dengan usia dan perkembangan anak.

    3. Seimbangkan aktivitas di dunia maya dengan dunia nyata

    Melarang anak menggunakan internet dan media sosial sekarang ini boleh dikatakan sebagai usaha yang nyaris tidak mungkin. Yang bisa Anda lakukan adalah bagaimana menyeimbangkan aktivitas anak di dunia maya dengan pengalaman di dunia nyata.

    Mengenalkan pengalaman dunia nyata dapat dilakukan dengan aktivitas olah raga, berkesenian, atau aktivitas lain sesuai minat dan bakat anak.

    4. Meminjamkan perangkat digital sesuai kebutuhan anak

    Jangan memberikan perangkat digital pada anak sebelum Anda yakin mereka bisa bertanggungjawab dan memahami konsekuensi maupun resiko di dunia maya. Semakin lama Anda menahan diri, semakin baik bagi anak.

    Pinjamkan perangkat digital seperti komputer, laptop, smartphone, atau ipad sesuai dengan kebutuhan anak. Agar anak belajar mengendalikan diri dan berbagi perangkat digital dengan keluarga. Ini juga bermanfaat untuk mengajarkan anak tenggang rasa dan kebersamaan.

    5. Memilih program atau aplikasi positif

    Orang tua harus selektif dalam memilih program atau aplikasi untuk anak. Identifikasi program atau aplikasi yang akan diinstal pada perangkat. Pastikan yang memiliki unsur edukasi dan memberikan dampak positif bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.

    6. Memberikan pendampingan

    Dampingi anak saat berselancar di dunia maya. Tingkatkan interaksi Anda bersama anak dengan cara menggunakan perangkat secara bersama-sama, dan jadikan kegiatan berselancar sebagai kegiatan yang menyenangkan bersama keluarga.

    7. Menggunakan perangkat digital secara bijak

    Bijaklah dalam menggunakan perangkat digital, seperti:

    • Menempatkan perangkat digital di ruang terbuka yang mudah dilihat
    • Tidak menggunakan perangkat atau media digital saat berinteraksi atau melakukan kegiatan dengan orang lain
    • Tidak menggunakan perangkat digital sebelum tidur
    • Mengatur batasan waktu penggunaan perangkat digital secara seimbang sesuai dengan usia anak

    8. Menelusuri kegiatan anak di dunia maya

    Pantau dan telusuri apa saja kegiatan anak di dunia maya. Arahkan anak untuk membuka situs web dan penggunaan media sosial sesuai dengan usia anak, serta mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak.

    Penutup

    Perkembangan teknologi informasi dan kemudahan akses internet bagi anak menjadi tantangan orang tua di era digital, bagaimana Anda harus mengerti dan menguasai teknologi digital agar tidak kalah “pintar” dari anak Anda.

    Penguasaan teknologi digital yang orang tua miliki akan menjadi modal berharga untuk mendampingi anak berselancar di dunia maya dan media sosial. Peran orang tua dalam mendidik anak di era digital tidak ubahnya peran Anda mendidik anak di dunia nyata.

    Dampingi anak Anda di dunia nyata dan dunia maya. Jaga privasi mereka, hindarkan mereka dari dampak negatif internet dan media sosial. Pastikan anak Anda aman dan nyaman saat online berselancar di dunia maya.

    Related Posts

    Posting Komentar