Cara Mengoptimalkan 8 Dimensi Gaya Belajar Peserta Didik

8 Dimensi Gaya Belajar

Gaya belajar (learning style) dalam proses pembelajaran menjadi isu sentral pada pendidikan karena pengaruhnya yang signifikan terhadap pencapaian belajar peserta didik.

Sesuai dengan keunikan individu, masing-masing peserta didik memiliki dimensi gaya belajar yang berbeda-beda, atau gaya belajar individu.

Felder & Henriques (1995), mendefinisikan gaya belajar individu adalah cara dimana seorang individu secara khas memperolah, mempertahankan, dan mengambil informasi secara kolektif.

Berdasarkan modalitas belajar individu, selama ini lebih dikenal dengan 3 jenis gaya belajar siswa atau peserta didik, yaitu visual, auditori, dan kinestetik.

Richard M. Felder dan Barbara A. Solomon peneliti dari North Carolina State University mengelompokkan gaya belajar menjadi 4 pasang dimensi, yaitu: (1) active dan reflective learners; (2) sensing dan intuitive learners; (3) visual dan verbal learners; dan (4) sequential dan global learners.

4 Pasang Dimensi Gaya Belajar Individu

1. Active dan Reflective Learners

Gaya belajar active learners memiliki kecenderungan untuk menguasai dan memahami informasi paling baik dengan melakukan sesuatu secara aktif.

Mereka menyukai bekerja di dalam kelompok, membahas, mengaplikasikan, atau menjelaskan sesuatu kepada orang lain.

Sedangkan gaya belajar reflective learners lebih menyukai bekerja sendiri, memikirkannya terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu.

Kedua dimensi gaya belajar ini cenderung mengalami kesulitan mengikuti pembelajaran yang hanya duduk diam mencatat pelajaran tanpa melakukan aktivitas fisik, terlebih bagi mereka yang active learners.

Keseimbangan ke dua dimensi gaya belajar ini diperlukan untuk hasil yang lebih baik, ketika seseorang bertindak sebelum berfikir maka akan mendatangkan masalah karena kurang matang atau tidak memahami masalah.

Sementara, jika seseorang terlalu lama berfikir, ada hal-hal yang mungkin saja tidak akan pernah dilakukannya.

2. Sensing dan Intuitive Learners

Dimensi gaya belajar sensing cenderung menyukai pembelajaran fakta, penyelesaian masalah dengan metode yang sudah disusun dengan baik, dan tidak menyukai kerumitan atau kejutan.

Gaya belajar sensing cenderung lebih praktis, tekun, teliti, detil, dan memiliki kemampuan yang baik dalam mengingat fakta. Karenanya, mereka lebih suka bekerja di laboratorium atau pelajaran yang ada hubungannya dengan kehidupan nyata.

Sedangkan gaya belajar intuitive learners lebih menyukai penemuan, tidak suka dengan pengulangan, hafalan, atau perhitungan yang teratur.

Pembelajar intuitif cenderung bekerja lebih cepat dan inovatif karena lebih suka menemukan kemungkinan dan hubungan. Mereka lebih baik dalam memahami konsep baru dan nyaman dengan rumus matematika.

Untuk menjadi pelajar yang efektif dan problem solver, kedua dimensi gaya belajar ini harus difungsikan dengan baik.

Ketika seseorang lebih menekankan pada intuisi, ia akan kehilangan detil penting atau ceroboh sehingga dapat membuat kesalahan dalam pekerjaan.

Ketika seseorang menekankan pada penginderaan, ia akan tergantung pada hafalan dan metode yang biasa digunakan sehingga tidak cukup konsentrasi pada pemahaman dan berfikir inovatif.

3. Visual dan Verbal Learners

Dimensi gaya belajar visual dapat mengingat dengan baik ketika melihat gambar, diagram, flowchart, jadwal, film, atau demonstrasi.

Sedangkan verbal learners lebih mudah memahami dengan kata-kata, penjelasan tertulis, maupun secara lisan.

Kegiatan pembelajaran yang baik adalah informasi yang disajikan berupa penggabungan dimensi visual dan verbal, karena peserta didik dapat memproses informasi baik secara visual maupun verbal.

4. Sequential dan Global Learners

Gaya belajar sequential learners cenderung mendapatkan pemahaman dalam langkah-langkah linier, dimana setiap langkah mengikuti dengan logis dari langkah berikutnya dalam menemukan solusi.

Sedangkan dimensi gaya belajar global learners cenderung belajar dengan lompatan besar, menyerap materi dengan acak tanpa melihat hubungan, dan secara tiba-tiba mendapatkan hasil belajarnya.

Pembelajar global mungkin dapat memecahkan masalah rumit dengan cepat ketika mereka telah memahami gambar besarnya, namun mereka kemungkinan sulit menjelaskan bagaimana mereka melakukannya.

Karenanya, untuk memperoleh hasi belajar yang baik perlu digunakan media pembelajaran yang mampu menghubungan dimensi sequential learner dan global learners.

Bagaimana peserta didik mampu memahami secara logis aspek khusus sebuah permasalahan dan menghubungkannya dengan gambaran besar dari permasalahan tersebut.

Cara Mengoptimalkan Dimensi Gaya Belajar Peserta Didik

Setelah mengetahui karakteristik masing-masing dimensi gaya belajar, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengkondisikan diri sesuai dengan dimensi gaya belajar peserta didik.

1. Gaya Belajar Active Learners

Jika kegiatan belajar di kelas hanya menyediakan sedikit waktu untuk diskusi atau kegiatan penyelesaian masalah, maka pembelajar aktif dapat mengoptimalkan dimensi gaya belajar active learners dengan belajar kelompok.

Kegiatan belajar kelompok dilakukan dengan masing-masing anggota kelompok aktif mengambil bagian saling menjelaskan topik yang berbeda-beda kepada yang lainnya.

Bekerja sama dengan anggota kelompok untuk saling menerka apa yang akan ditanyakan pada saat ujian dan pahami bagaimana seharusnya ia menjawab.

2. Gaya Belajar Reflective Learners

Jika kegiatan belajar di kelas kurang mendukung atau menyediakan sedikit waktu untuk berfikir, maka dimensi gaya belajar ini dapat dioptimalkan dengan langkah berikut:

  • tidak langsung membaca dan menghafal tapi berhenti secara berkala untuk meninjau kembali apa yang sudah dibaca, serta memfikirkan pertanyaan atau aplikasi apa yang mungkin muncul; dan
  • menulis rangkuman bacaan atau catatan pelajaran dengan menggunakan bahasa atau kata-kata sendiri untuk membantu memahami materi pelajaran.

Kegiatan ini mungkin memakan waktu tapi dapat memenuhi dimensi gaya belajar reflective learners yang akan membantu memahami materi pelajaran lebih efektif.

3. Gaya Belajar Sensing Learners

Individu dengan gaya belajar sensing learners mudah mengingat dan memahami informasi dengan melihat bagaimana hal tersebut berhubungan dengan dunia nyata.

Jika di dalam kelas sebagian besar materi pelajaran bersifat abstrak dan teoretis, maka memungkinkan pembelajar sensing akan mengalami kesulitan dalam memahami materi.

Untuk mengoptimalkan dimensi gaya belajar sensing learners maka peserta didik dapat bertanya kepada teman, senior, atau guru untuk contoh khusus konsep atau prosedur, dan cari tahu penerapan konsep tersebut.

Jika guru tidak menyediakan penjelasan secara spesifik yang cukup, cobalah untuk mencari tahu dari buku teks, referensi lain, atau berdiskusi dengan teman.

4. Gaya Belajar Intuitive Learners

Pembelajar intuitive akan bermasalah dengan kebosanan jika berada di kelas dengan materi yang berhubungan dengan hafalan dan rumus-rumus.

Untuk mengatasi masalah tersebut, peserta didik bisa bertanya kepada guru untuk interpretasi atau teori yang berhubungan dengan fakta, atau mencoba sendiri untuk menemukan hubungan tersebut.

Seseorang dengan dimensi gaya belajar intuitive learners seringkali melakukan kesalahan atau ceroboh pada saat ujian karena tidak sabar dengan detil atau pengulangan, seperti memerika kembali jawaban.

Sediakan waktu untuk membaca ulang tugas, atau keseluruhan pertanyaan sebelum menjawab, dan pastikan untuk memeriksa hasil.

5. Gaya Belajar Visual Learners

Cara mengoptimalkan dimensi gaya belajar visual learners adalah dengan membuat atau menemukan diagram, sketsa, skema, foto, flowchart, atau representasi materi ajar visual lainnya.

Selain itu bertanya kepada guru, membaca buku referensi, atau melihat video dari materi pelajaran jika tersedia.

Siapkan peta konsep dengan membuat daftar point-point penting, tandai dengan kotak atau lingkaran, gambarlah garis dengan anak panah diantara konsep untuk menunjukkan hubungan.

Warnai kode catatan dengan warna yang sama menggunakan stabilo untuk segala sesuatu yang berhubungan pada satu topik.

6. Gaya Belajar Verbal Learners

Tuliskan ringkasan atau garis besar materi pelajaran dengan bahasa atau kata-kata sendiri untuk mengoptimalkan dimensi gaya belajar verbal learners.

Selain itu, pembelajar verbal akan sangat efektif jika belajar dalam kelompok. Peserta didik mendapatkan pemahaman materi dengan mendengarkan penjelasan dari teman sekelas dan/atau menjelaskan kepada orang lain.

7. Gaya Belajar Sequential Learners

Peserta didik dengan dimensi gaya belajar sequential learners akan mengalami kesulitan jika guru berpindah-pindah dari satu topik ke topik lain, atau melewatkan langkah-langkah linier atau logis.

Untuk mengatasi masalah tersebut, pembelajar sequential bisa bertanya kepada guru tentang langkah-langkah yang terlewati, atau melengkapi sendiri dengan cara membaca referensi.

Saat belajar, sediakan waktu untuk memperoleh garis besar materi pelajaran untuk diri sendiri dengan memperhatikan urutan yang baik. Hal ini untuk efektivitas dan efisiensi waktu untuk pembahasan materi yang panjang.

Belajar untuk meningkatkan keterampilan berfikir global dengan menghubungkan setiap topik baru yang dipelajari dengan hal-hal yang sebelumnya sudah diketahui.

Semakin baik keterampilan berfikir global maka semakin dalam pemahaman peserta didik terhadap topik yang dibahas, karena melengkapi kekurangan yang dimiliki individu dengan gaya belajar sequential learners.

8. Gaya Belajar Global Learners

Peserta didik yang mengalami kesulitan dalam memecahkan permasalahan yang besar atau kompleks bukan berarti pembelajar yang lambat dalam berfikir, bisa jadi peserta didik tersebut memiliki gaya belajar global learners.

Untuk mengatasi kelemahan gaya belajar global learners, sebelum mulai belajar lakukan skimming atau membaca dengan cepat keseluruhan bab untuk mendapatkan garis besarnya.

Untuk mengoptimalkan dimensi gaya belajar global learners bisa dilakukan dengan mencoba menghubungkan mata pelajaran apa saja yang sudah diketahui dengan cara bertanya kepada guru atau membaca referensi untuk melihat hubungan tersebut.

Penutup

Idealnya, penting untuk mengidentifikasi terlebih dahulu jenis gaya belajar peserta didik sebelum proses pembelajaran dimulai.

Pemetaan terhadap gaya belajar peserta didik diperlukan untuk menentukan kegiatan dan strategi belajar yang sesuai dengan karakteristik peserta didik agar mencapai hasil belajar yang optimal.

Masing-masing individu memiliki gaya belajar yang berbeda. Bisa jadi peserta didik menggunakan lebih dari satu jenis gaya belajar, sehingga guru juga harus mengkombinasikan kegiatan dan strategi belajarnya.

Penting untuk menjaga keyakinan dan percaya diri peserta didik ketika mereka mendapatkan nilai yang rendah, belum tentu mereka lemah dalam berfikir, bisa jadi karena cara mereka belajar tidak sesuai dengan dimensi gaya belajar mereka.

Karenanya, guru harus memahami 4 pasang dimensi gaya belajar, yaitu: (1) active dan reflective learners, (2) sensing dan intuitive learners, (3) visual dan verbal larners, dan (4) sequential dan global learners.

Pemahaman ini akan memudahkan guru dalam memetakan, membimbing, menyusun kegiatan dan strategi pembelajaran yang mengakomodasikan jenis gaya belajar peserta didik sehingga mendapatkan hasil belajar yang optimal.

Posting Komentar untuk "Cara Mengoptimalkan 8 Dimensi Gaya Belajar Peserta Didik"