NhtWfPz58M7zQ3LTiasbXsSuTgl7LmPmXMtLy6Eg

Konseling Kreatif, Strategi Layanan BK di Era Revolusi Industri 4.0

Konseling Kreatif

Dunia saat ini memasuki era revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan “internet of things”, yaitu penggunaan teknologi internet menjadi peralatan yang dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Peserta didik sebagai generasi milenial memiliki kecenderungan lebih banyak berinteraksi dengan internet. Mereka lebih senang mencari informasi berbasis visual, seperti youtube, daripada melalui teks atau narasi yang disampaikan oleh guru BK.

Ketika mereka mempunyai masalah, mereka lebih tertarik untuk mencari tahu dan berusaha menyelesaikan masalah dengan cara mereka sendiri melalui internet. Padahal informasi yang tersedia di internet tidak selalu tervalidasi kebenarannya.

Jika yang terjadi adalah misinformasi, justru akan menjadi bumerang bagi peserta didik. Oleh karena itu, Konselor dapat berinovasi dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling sesuai dengan karakteristik peserta didik di era revolusi industri 4.0, salah satunya dengan layanan konseling kreatif.

    Konseling Kreatif

    Konseling adalah layanan bantuan yang diberikan Guru BK (Konselor Sekolah) kepada peserta didik (konseli) agar mereka dapat mengatasi masalah yang dialaminya dengan potensi yang dimiliki.

    Perubahan karakteristik peserta didik di era revolusi industri 4.0 menuntut Guru BK untuk mengubah strategi layanan konseling yang selama ini dipraktikkan.

    Menurut Jacobs (Rahadian, 2011), terdapat kesalahan atau kelemahan yang sering dilakukan konselor yang menjadikan sesi konseling menjadi membosankan dan tidak efektif, yakni;

    • melakukan terlalu banyak refleksi,
    • mendengarkan terlalu banyak cerita konseli,
    • jarang menginterupsi konseli,
    • tidak fokus dalam sesi konseling,
    • menunggu terlalu lama untuk melakukan fokus,
    • tidak menggunakan teori konseling,
    • jarang menggunakan alat bantu yang kreatif dan multi-sensori.

    Konseling kreatif menjadi strategi alternatif yang dapat dilaksanakan di sekolah. Pendekatan konseling kreatif diharapkan dapat mengurangi kelemahan-kelemahan konseling konvensional yang selama ini dipraktikkan di sekolah.

    Konseling kreatif adalah upaya konselor untuk membantu konseli dalam mengoptimalkan potensinya dengan menggunakan pendekatan multi-aspek, pemanfaatan alat bantu kreatif yang bersifat multi-sensori, sehingga konseli dapat memberdayakan seluruh indra yang dimiliki.

    Konseling kreatif bertujuan untuk mendorong konseli menjadi aktif, berfikir untuk diri mereka sendiri, dan melihat pengalaman sendiri selama sesi konseling berlangsung sehingga dapat meningkatkan kepercayaan diri dan kemandirian konseli.

    Karenanya, pada konseling kreatif konselor diberikan kebebasan untuk menjadi kreatif namun tetap fokus pada tujuan yang sudah dirumuskan dengan jelas dan konkret, yakni menciptakan perubahan atau menggerakkan proses untuk perubahan pada diri konseli.

    Karakteritik Konseling Kreatif

    Konseling kreatif menggunakan pendekatan multi-aspek dan melihat masalah dari sudut pandang multi-indera, yang mengakui bahwa perubahan pada diri konseli bukan hanya berasal dari pertukaran verbal, tetapi juga visual dan kinestetik.

    Oleh karenanya, karakteristik konseling kreatif harus memenuhi ciri-ciri berikut;

    • Multi-aspek, konselor menggunakan semua sumber daya yang ada pada dirinya dan diri konseli, seperti gaya belajar, keterampilan, latar belakang sosial dan budaya konseli.
    • Multi-sensori, membuat ide-ide abstrak menjadi konkret secara visual, penggunaan konseling eksperiensial, serta penerapan aspek kinestetik dalam konseling.
    • Motivasional, kemampuan konselor memotivasi konseli untuk berubah melalui tahap-tahap perubahan yang sudah dirumuskan dengan jelas dan konkret.
    • Marketing, upaya yang dilakukan konselor membuat sesi konseling menjadi lebih menarik dan efektif, sehingga konseli merasakan manfaat nyata selama sesi konseling.
    • Maps, tahapan atau peta jalan yang perlu dilalui konselor selama sesi konseling.

    Terdapat 5 tahapan konseling kreatif yang harus dilalui konselor, yaitu:

    • Rapport, membangun hubungan yang genuine dan saling percaya antara konselor dan konseli.
    • Contract, persetujuan secara implisit dan eksplisit dalam menetapkan tujuan konseling.
    • Focus, membantu konseli untuk tetap fokus pada topik atau isu tertentu selama sesi konseling.
    • Funneli, mendiskusikan sebuah isu dengan cara tertentu sampai tercapai tingkat pemahaman baru yang lebih dalam.
    • Closing, membuat rangkuman apa yang telah dipelajari dan membicarakan cara konseli menggunakan informasi yang diperolehnya.

    Teknik Konseling Kreatif

    Proses konseling kreatif tidak bisa terjadi secara otomatis, konselor perlu memfasilitasi terciptanya kondisi yang mendukung konseli mampu secara kreatif dalam mengkaji masalah, membangun perspektif alternatif terhadap masalah, serta menghasilkan dan mengevaluasi beragam pilihan solusi masalah.

    Pada akhirnya konseling kreatif akan memberikan peluang kepada konseli untuk membawa pemikiran dan perasaan pada kesadaran melalui pengekspresian diri dalam berbagai cara.

    Berikut beberapa teknik konseling kreatif;

    1. Pendekatan Metafora

    Salah satu teknik konseling kreatif adalah metafora, yakni upaya untuk mendeskripsikan suatu ide atau persoalan yang abstrak menjadi lebih konkret sehingga lebih mudah dipahami.

    Penggunaan metafora secara kreatif dalam sesi konseling dapat membantu konselor dan konseli untuk memahami persoalan yang dihadapi serta mengembangkan solusi.

    Dalam konteks layanan bimbingan dan konseling, metafora dapat digunakan untuk mengilustrasikan isu-isu interpersonal tertentu, membantu konseli mengenali dan memahami diri dan lingkungan sekitarnya, serta membantu konseli membingkai ulang masalah yang dihadapinya.

    2. Pendekatan Impact

    Teknik impact merupakan pendekatan dalam konseling kreatif yang menghargai ragam cara belajar, cara berubah, dan cara berkembang konseli.

    Teknik ini menekankan pada pentingnya membantu konseli untuk memahami permasalahan dan solusi secara jelas dan konkret menggunakan pendekatan multi-sensori, yang melibatkan dimensi verbal, visual, dan kinestetik dalam proses konseling.

    3. Pedekatan Ekspresif

    Era revolusi industri 4.0 memunculkan fenomena media sosial. Peserta didik memiliki kecenderungan melakukan katarsis, mengeluarkan masalah dengan menuliskannya di status media sosial mereka. Alih-alih dapat menyelesaiakan masalah, bahkan dapat menimbulkan masalah baru bagi mereka.

    Melalui pendekatan konseling ekspresif, konselor dapat membantu konseli mengekspresikan permasalahannya dengan cara yang tepat. Konselor dapat membantu konseli mengeksplorasi dan mengungkapkan perasaannya melalui media ekspresif, seperti seni.

    Seni dapat membantu peserta didik yang bermasalah melakukan relaksasi serta katarsis tanpa terasa terbebani dalam mengungkapkan masalahnya kepada orang lain. Pendekatan konseling ekspresif dapat dilakukan dalam bentuk seni musik, visual, drama, menggambar atau menulis ekspresif, serta gerak seperti seni tari atau dansa.

    4. Pendekatan Guided Imagery

    Pendekatan guided imagery adalah strategi konsentrasi terfokus, dimana gambar visual digunakan untuk membuat penguatan perasaan dan relaksasi.

    Konseli dipandu untuk fokus pada fikiran positif atau gambar yang menyenangkan sambil membayangkan situasi yang tidak nyaman atau menimbulkan kecemasan. Konseli diarahkan untuk dapat memblokir hal-hal negatif dengan memanfaatkan ketidakfokusan emosi antara perasaan senang dengan kejadian yang tidak menyenangkan.

    Konselor bertindak sebagai fasilitator yang menyediakan gambaran imajinasi positif yang akan diciptakan. Kemudian melakukan internalisasi keterampilan berfikir dengan menciptakan citra visual yang membantu konseli dalam mengatasi masalah.

    Teknik guided imagery dapat diterapkan pada konseli yang mengalami masalah over thinking atau memiliki kecenderungan selalu berfikir negatif dan pesimis untuk sesuatu yang belum terjadi.

    5. Pendekatan Prop Intervention

    Prop Intervention adalah pendekatan konseling kreatif dengan menggunakan alat peraga untuk membantu konseli mendapatkan perspektif tentang masalah mereka, seperti stres, harga diri, kemarahan, pengambilan keputusan, dll.

    Implementasi prop intervention akan memicu konseli untuk aktif terlibat selama proses konseling. Menjauhkan kesan menjenuhkan dan membosankan karena sesi konseling lebih variatif, tidak hanya sekedar percakapan sepanjang pertemuan.

    Keterlibatan secara langsung memungkinkan konseli mendapatkan pengalaman dan pembelajaran yang memberikan kesan mendalam. Proses konseling menjadi menyenangkan sehingga konseli dapat merasakan kebermanfaatannya.

    6. Pendekatan Reading Intervention

    Reading intervention berkesesuaian dengan teknik biblioterapi, yaitu penggunaan literatur untuk terapeutik. Membaca memberikan informasi dan wawasan baru, membantu konseli untuk;

    • mendapatkan informasi tentang masalah yang dihadapinya,
    • mengembangkan sikap dan keyakinan baru tentang diri dan masalah yang dihadapainya,
    • mengembangkan kesadaran bahwa ada orang lain yang memiliki masalah yang sama, dan bagaimana mereka mengatasinya,
    • mempertimbangkan kemungkinan pemecahan masalah

    Konselor memfasilitasi konseli dengan menyediakan atau menyarankan buku referensi, buku cetak maupun elektronik, yang mudah diakses dan menyenangkan untuk dibaca oleh konseli. Mendorong konseli untuk membaca dan memperoleh pengalaman atau pembelajaran.

    Membaca membantu konseli memahami diri dan lingkungan, belajar dari orang lain, dan mungkin menemukan solusi untuk masalah mereka. Konseli menjadi pribadi yang terlibat dengan situasi dan karakter dalam buku, serta masalah yang dihadapi.

    7. Pendekatan Writing Intervention

    Pendekatan konseling kreatif ini merupakan bentuk intervensi kreatif dengan cara menulis, seperti puisi, surat, jurnal harian, atau bercerita bagi konseli yang tidak suka menulis.

    Teknik ini serupa dengan expresive writing, yang sesuai diterapkan pada konseli yang mengalami kesulitan menyampaikan masalahnya secara verbal, langsung.

    Menulis atau bercerita membantu konseli mengekpresikan dan mengeksplorasi diri, menemukan kemandirian diri, dan perubahan-perubahan diri yang bermanfaat dalam menangani masalah yang dihadapinya.

    8. Pendekatan Music Intervention

    Era revolusi industri 4.0 memungkinkan peserta didik mengakses dengan mudah dan cepat berbagai genre musik secara online. Karenanya, konselor dapat berinovasi dengan mengkreasikan musik sebagai teknik pemberian layanan bimbingan dan konseling.

    Musik dapat menjadi cara bagi konseli untuk mengekspresikan diri, mengatasi stres, bersantai, bersenang-senang, serta merasakan dan mengalami dunianya. Sehingga musik bisa dijadikan bentuk intervensi kreatif layanan konseling.

    Konselor dapat menggunakan intervensi musik dalam bentuk mendengarkan musik yang diasosiasikan dengan peristiwa atau kenangan yang menyenangkan dan menenangkan konseli, mengalihkan pikiran negatif, membantu konseli untuk berfikir jernih dan kreatif, sehingga membantu konseli membuat solusi yang konstruktif terhadap masalah yang dihadapinya.

    9. Pendekatan Play Intervention

    Internet of things di era revolusi industri 4.0 menjadikan peserta didik melek teknologi, namun di sisi lain, mereka lebih asyik di dunia maya dibandingkan dengan aktivitas di dunia nyata. Selain itu, internet menjadikan semua hal dapat tersedia dengan cepat sehingga peserta didik memiliki kecenderungan egosentris dan serba instan.

    Play intervention bisa dipilih menjadi strategi kreatif dalam layanan bimbingan dan konseling. Teknik ini merupakan intervensi bermain yang bertujuan membantu konseli dalam berfikir secara berbeda tentang dirinya, keluarga, teman sebaya, serta masalah di sekolah melalui kegiatan bermain yang menyenangkan.

    Bermain memberikan kesempatan konseli untuk bersosialisasi, melatih keterampilan membangun hubungan, dan menikmati sebuah proses, sehingga dapat mereduksi tingkat egosentris dan sikap serba instan yang dimiliki konseli.

    Penutup

    Era revolusi industri 4.0 menjadikan peserta didik banyak berinteraksi menggunakan internet. Mereka lebih tertarik pada informasi berbasis internet secara visual daripada membaca buku atau mendengarkan ceramah dari Guru BK.

    Kondisi ini menjadikan konseling konvensional dengan komunikasi verbal menjadi terkesan membosankan. Konseling kreatif menjadi salah satu alternatif yang dapat dipakai konselor dalam memberikan bantuan kepada konseli secara efektif.

    Konseling kreatif menekankan pada keaktifan dan keterlibatan konseli selama proses konseling. Konselor dituntut untuk dapat menstimulus konseli agar dapat melibatkan semua aspek dan semua indera sensori mereka selama sesi konseling.

    Oleh karena itu, konselor harus memahami kosep konseling kreatif, selalu mengembangkan diri dan kompetensinya sehingga dapat menerapkan teknik konseling kreatif secara efektif.

    Artikel Terkait

    Posting Komentar