NhtWfPz58M7zQ3LTiasbXsSuTgl7LmPmXMtLy6Eg

Bagaimana Menggunakan Media Bimbingan dan Konseling yang Efektif?

Media Bimbingan dan Konseling

Layanan bimbingan dan konseling merupakan sebuah proses komunikasi antara konselor (Guru BK) dengan konseli, yaitu peserta didik yang mendapatkan layanan BK baik secara individual, kelompok, maupun klasikal.

Dalam komunikasi, seringkali terdapat penghalang yang menyebabkan pesan atau informasi tidak bisa tersampaikan dengan tepat dan akurat. Karena itu, Guru BK membutuhkan perantara berupa media bimbingan dan konseling.

Penggunaan media dalam layanan BK bertujuan untuk membantu Guru BK meminimalisir kemungkinan adanya distorsi pesan, dan meningkatkan efektifitas pencapaian tujuan layanan bimbingan dan konseling.

Artikel berikut akan membahas pengertian media bimbingan dan konseling, kedudukan, fungsi, manfaat, jenis, dan teknik dalam memilih media BK.

    Apa Itu Media Bimbingan dan Konseling?

    Secara harfiah, media berarti perantara atau pengantar, yaitu perantara dari sumber pesan dengan penerima pesan.

    Dalam bimbingan dan konseling, media digunakan sebagai perantara bagi Guru BK atau konselor sebagai fasilitator dalam pelayanan BK kepada konseli, yakni peserta didik sebagai sasaran layanan.

    Sehingga media BK dapat diartikan segala sesuatu yang digunakan untuk menyalurkan pesan atau informasi dari konselor kepada konseli yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, minat, dan kemauan konseli untuk memahami diri, mengarahkan diri, dan mengambil keputusan serta memecahkan masalah yang dihadapinya.

    Media bimbingan dan konseling merupakan suatu peralatan baik berupa perangkat lunak maupun perangkat keras yang berfungsi sebagai alat bantu dalam kegiatan layanan bimbingan dan konseling (Prasetiawan, 2018: 95).

    Perangkat lunak (software) dalam media BK merupakan informasi, bahan, atau materi dari layanan bimbingan dan konseling yang akan diberikan kepada konseli. Sedangkan perangkat keras (hardware) adalah sarana atau alat yang dipakai dalam menyajikan pesan dari materi BK tersebut.

    Penggunaan media dalam layanan BK dapat dilakukan oleh Guru BK dengan membuat sendiri perangkat keras sebagai media bimbingan dan konseling, atau menggunakan media yang sudah ada, dibuat orang lain, dalam penyampaian materi layanan bimbingan kepada peserta didik.

    Namun demikian, tidak semua perangkat keras bisa diklasifikasikan sebagai media bimbingan dan konseling. Sebuah perangkat keras dapat digunakan sebagai media BK harus memenuhi unsur-unsur berikut:

    • Perangkat keras tersebut mengandung suatu pesan atau informasi;
    • pesan tersebut memiliki kesesuaian dengan materi layanan bimbingan dan konseling;
    • pesan yang terkandung dalam perangkat keras tersebut mendukung tujuan layanan yang ingin dicapai, yaitu perkembangan peserta didik secara optimal.

    Contohnya, ketika Guru BK akan mengambil video dari youtube, apakah video tersebut mengandung ketiga unsur di atas? Jika tidak, maka video tersebut hanya sebagai hiburan semata, tidak memiliki fungsi sebagai media bimbingan dan konseling.

    Karena pada hakikatnya, kedudukan media dalam layanan bimbingan dan konseling bukan hanya sekedar pelengkap atau alat semata, melainkan sebagai satu kesatuan dari materi layanan itu sendiri.

    Kedudukan Media dalam Layanan Bimbingan dan Konseling

    Hakikat dari layanan bimbingan dan konseling merupakan bentuk komunikasi yang intensif antara Guru BK dengan peserta didik.

    Seringkali dalam kegiatan layanan BK pesan yang disampaikan Guru BK kepada peserta didik tidak bisa dipahami dengan baik karena adanya hambatan atau gangguan.

    Untuk mengurangi hambatan atau gangguan dalam penyampaian pesan diperlukan sarana alat bantu berupa media.

    Karenanya, penggunaan media dalam layanan bimbingan dan konseling memiliki kedudukan sebagai berikut:

    1. Media BK bukan fungsi tambahan

    Penggunaan media dalam layanan BK bukan merupakan fungsi tambahan, tetapi merupakan satu kesatuan dari materi layanan.

    Media bimbingan dan konseling merupakan sarana atau alat bantu untuk mewujudkan situasi pelayanan BK yang efektif.

    2. Media BK merupakan bagian integral dari proses layanan bimbingan dan konseling

    Penggunaan media dalam layanan BK bukan merupakan komponen yang berdiri sendiri, tetapi saling terkait dan berhubungan dengan komponen lainnya dalam rangka menciptakan situasi layanan yang diharapkan.

    3. Media BK merupakan sarana pendukung untuk mencapai tujuan layanan

    Pemilihan dan penggunaan media bimbingan dan konseling harus selalu merujuk pada materi dan kompetensi yang diharapkan dari layanan yang diberikan.

    Karenanya, penggunaan media dalam layanan BK harus relevan dengan isi dan tujuan yang ingin dicapai dari layanan bimbingan dan konseling itu sendiri.

    Media BK bukan merupakan alat untuk mencapai tujuan, melainkan sarana pendukung untuk ketercapaian tujuan layanan bimbingan dan konseling.

    4. Media BK bukan ice breaking

    Media bimbingan dan konseling bukan sebagai ice breaking atau alat hiburan, sehingga media yang digunakan bukan sekedar alat permainan atau untuk memancing perhatian konseli.

    Penggunaan media dalam layanan BK merupakan bagian integral dari layanan yang dapat mendukung ketercapaian tujuan dari layanan bimbingan dan konseling yang diberikan.

    5. Media BK untuk memperlancar proses pelayanan bimbingan dan konseling

    Penggunaan media dalam layanan BK berguna untuk memudahkan peserta didik dalam memahami masalah dan/atau menangkap materi yang disajikan dengan lebih cepat, tepat, dan akurat. Sehingga proses kegiatan layanan berjalan dengan lancar sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

    6. Media BK untuk meningkatkan kualitas layanan bimbingan dan konseling

    Penggunaan media bimbingan dan konseling pada hakikatnya adalah untuk meningkatkan kualitas layanan BK yang diberikan oleh Guru BK kepada peserta didik.

    Pada umumnya, penggunaan media dalam layanan BK mempermudah peserta didik menyerap materi layanan yang diberikan dan mengendap lebih lama dalam memori mereka, sehingga kegiatan layanan menjadi lebih bermakna.

    Jika penggunaan media tidak mampu meningkatkan kualitas layanan, maka media tersebut sesungguhnya kehilangan fungsinya sebagai media bimbingan dan konseling.

    Fungsi Media Bimbingan dan Konseling

    Media merupakan salah satu bagian yang menentukan efektifitas dan efisiensi pencapaian tujuan layanan bimbingan dan konseling.

    Secara umum, fungsi media dalam kegiatan pembelajaran adalah:

    • Mengubah materi yang tadinya abstrak menjadi konkret;
    • teoritis menjadi fungsional praktis;
    • membangkitkan motivasi belajar;
    • materi lebih menarik sehingga bisa memusatkan perhatian peserta didik;
    • memberikan kejelasan materi;
    • memberikan stimulasi belajar.

    Secara khusus, penggunaan media dalam layanan bimbingan dan konseling berfungsi untuk,

    • Memperjelas pesan yang disampaikan dalam layanan BK agar tidak terlalu verbalistis;
    • mengatasi keterbatasan ruang, waktu, tenaga, dan daya indra;
    • menumbuhkan minat konseli;
    • memberingan rangsangan, pengalaman, serta persepsi yang sama pada konseli;
    • membuat proses layanan BK menjadi lebih menarik dan interaktif;
    • menumbuhkan sikap positif konseli terhadap materi layanan BK;
    • meningkatkan ketercapaian kualitas layanan bimbingan dan konseling.

    Ketika media dapat menjalankan fungsinya dengan baik, maka akan memberikan manfaat yang lebih besar bagi keseluruhan kegiatan layanan bimbingan dan konseling.

    Manfaat Media Bimbingan dan Konseling

    Secara khusus, penggunaan media dalam layanan bimbingan dan konseling bermanfaat untuk mengurangi hambatan dan distorsi atau perubahan makna dari pesan yang ingin disampaikan dalam kegiatan layanan BK.

    Secara umum, media bimbingan dan konseling memiliki manfaat sebagai berikut:

    1. Pesan dalam materi bimbingan dan konseling lebih terorganisir

    Media bimbingan dan konseling membantu Guru BK dalam pelaksanaan layanan, karena materi dan informasi yang disampaikan menjadi lebih terorganisir secara sistematis dan rapi.

    Materi layanan BK yang terorganisir secara sistematis dan rapi mempermudah peserta didik untuk menyerap dan memahami isi pesan yang diharapkan di akhir proses layanan, sehingga efektifitas layanan bimbingan dan konseling dapat tercapai.

    2. Materi layanan bimbingan dan konseling lebih terstandar

    Sistematika media bimbingan dan konseling yang terorganisir dengan baik akan mewujud menjadi materi BK yang terstandar.

    Standarisasi menjadikan materi layanan BK akan memiliki lingkup dan makna yang tetap atau sama meskipun disampaikan pada tempat, waktu, dan Guru BK yang berbeda.

    3. Layanan BK menjadi lebih menarik

    Pengunaan media dalam layanan BK menjadikan kegiatan layanan menjadi tidak monoton, lebih menarik karena variatif.

    Selain itu, penggunaan media bimbingan dan konseling lebih menarik karena materi yang abstrak bisa dirubah menjadi sesuatu yang konkret. Teoritis menjadi fungsional praktis.

    4. Layanan BK menjadi lebih interaktif

    Dengan bantuan media, memberi waktu yang lebih banyak kepada Guru BK untuk berinteraksi dengan peserta didik.

    Waktu yang lebih banyak juga memberikan kesempatan pada peserta didik untuk memperdalam pemahaman terhadap materi layanan BK yang diberikan dengan melakukan tanya-jawab.

    Selain itu, penggunaan media bimbingan dan konseling yang interaktif memungkinkan konseli untuk secara mandiri mencari layanan sesuai dengan kebutuhan dan permasalahan yang dialaminya.

    5. Efisiensi waktu pelayanan

    Penggunaan media menjadikan penyampaian materi layanan BK menjadi lebih efisien dan lebih singkat, sehingga memberikan peluang dan tambahan waktu bagi Guru BK untuk memfasilitasi peserta didik melakukan aktivitas lain yang lebih bermakna.

    6. Meningkatkan kualitas layanan BK

    Penggunaan media bimbingan dan konseling membuat peserta didik dan Guru BK memiliki gambaran secara konkret tentang topik yang dibahas dalam kegiatan layanan.

    Gambaran konkret terhadap isu-isu yang dibahas dalam kegiatan layanan menjadikan pesan mudah disampaikan dan dipahami dengan baik oleh peserta didik.

    Penggunaan media dalam layanan BK mendorong Guru BK dan peserta didik dapat berkolaborasi membahas topik yang disajikan, seperti melakukan analisis, evaluasi, berpikir kritis, dll. sehingga isu-isu yang dibahas menjadi lebih bermakna.

    7. Fleksibilitas waktu

    Topik layanan yang telah dirangkum dan disajikan dalam bentuk media tertentu, maka memudahkan Guru BK dalam menyampaikan topik tersebut.

    Guru BK dapat menggunakan media bimbingan dan konseling kapanpun dan dimanapun materi tersebut dibutuhkan. Fleksibel, tidak terikat waktu.

    8. Mengembangkan sikap positif peserta didik

    Penggunaan media dalam layanan BK dapat menumbuhkan sikap positif peserta didik terhadap layanan bimbingan dan konseling.

    Media bimbingan dan konseling yang dipersiapkan dengan baik, komunikatif, interaktif, dan menarik akan menumbuhkan sikap positif peserta didik.

    Peserta didik akan memandang bahwa layanan BK merupakan kegiatan profesional yang diberikan oleh Guru BK yang kredibel, kompeten, dan bermanfaat bagi mereka.

    9. Meningkatkan peran Guru BK

    Penggunaan media bimbingan dan konseling mendukung pelaksanaan layanan BK secara optimal. Guru BK bukan sekedar memberikan tugas atau sebagai penceramah, tapi berperan sebagai presenter dan fasilitator dalam kegiatan layanan.

    10. Isu yang dibahas dalam layanan BK menjadi lebih konkret

    Penggunaan media bimbingan dan konseling yang tepat dapat menghadirkan contoh atau objek yang konkret, sehingga layanan BK yang bersifat abstrak, imajinatif, menjadi lebih nyata.

    Jenis Media Bimbingan dan Konseling

    Guru BK dapat mengembangkan sendiri format media untuk mendukung ketercapaian tujuan layanan bimbingan dan konseling sesuai dengan kemampuannya.

    Selain itu, Guru BK dapat mengggunakan media yang sudah ada dan/atau dibuat orang lain sepanjang memenuhi kriteria yang layak sebagai media bimbingan dan konseling.

    Berikut jenis media bimbingan dan konseling yang bisa dikembangan oleh Guru BK.

    1. Visual

    Media visual merupakan media yang hanya melibatkan indra penglihatan, tidak mengandung unsur suara.

    Secara khusus, media ini digunakan untuk pendekatan layanan BK bagi peserta didik dengan kecenderungan gaya belajar visual.

    Selain itu, media bimbingan dan konseling visual dapat digunakan untuk menjadikan informasi yang awalnya abstrak, imajinatif, menjadi konkret, lebih nyata.

    Karenanya, penggunaan media visual dalam layanan BK dapat dipilih untuk,

    • Menyederhanakan konsep-konsep yang kompleks
    • Menunjukkan hubungan antar variabel atau konsep
    • Menggambarkan suatu proses atau prosedur
    • Merangsang dan mengembangkan minat peserta didik untuk mengikuti layanan BK
    • Mendorong kreativitas peserta didik

    Contoh media BK visual:

    • Papan Bimbingan
    • Gambar diam atau foto
    • Bagan atau diagram
    • Grafik
    • Leaflet
    • Poster, dll.

    Kelebihan media BK visual:

    • Banyak konten media visual di internet yang relevan dengan topik layanan BK
    • Biaya relatif murah
    • Tidak memerlukan perlengkapan khusus
    • Mudah digunakan
    • Dapat menyederhanakan gagasan yang rumit menjadi mudah dipahami

    Kekurangan media BK visual:

    • Penyajian pesan terbatas hanya pada unsur visual
    • Beberapa media visual membutuhkan keterampilan khusus dalam pembuatannya
    • Gampang rusak atau hilang

    2. Audio

    Media audio merupakan media dimana informasi atau pesan yang akan disampaikan dituangkan dalam lambang-lambang auditif yang berupa kata-kata, musik, atau sound effect.

    Pengunaan media dalam format audio dapat digunakan untuk pendekatan layanan BK bagi peserta didik dengan kecenderungan gaya belajar auditori.

    Penggunaan media audio dalam layanan BK secara umum berfungsi untuk:

    • Mengkonkretkan materi yang abstrak
    • Mengusir kebosanan saat kegiatan layanan berlangsung
    • Mengaktifkan indera pendengaran peserta didik/konseli
    • Menarik minat dan perhatian peserta didik
    • Menumbuhkan semangat dan merangsang ide-ide kreatif peserta didik
    • Mendekatkan teori dengan realita
    • Menciptakan suasana dan perilaku yang mendukung kegiatan layanan
    • Menciptakan suasana yang relaks dan tenang dalam sesi konseling

    Contoh media BK audio:

    • Murotal Qur’an
    • Musik
    • Siaran radio
    • Rekaman wawancara

    Kelebihan media BK audio:

    • Materi sudah terpateri
    • Mudah didistribusikan
    • Produksi dan reproduksi ekonomis
    • Peralatan lebih murah
    • Memungkinkan peserta didik belajar secara mandiri
    • Dapat diatur jeda untuk keperluan interaksi
    • Dapat mempengaruhi suasana dan perilaku konseli

    Kekurangan media BK audio:

    • Pemutaran media audio yang terlalu lama dapat menimbulkan kebosanan
    • Perbaikan master rekaman bisa membutuhkan waktu lama dan biaya yang besar
    • Masalah penyelarasan antara media audio dengan media lainnya
    • Penggunaan media audio yang tidak selaras dengan media lain dapat menyebabkan kebingungan konseli
    • Membutuhkan keterampilan khusus dalam penyusunan naskah audio
    • Sukar menyesuaikan kecepatan dengan daya serap konseli

    Media audio dalam layanan bimbingan dan konseling dapat dipergunakan sebagai materi utama maupun sebagai materi pendukung.

    Dalam pemanfaatannya, media audio dapat difungsikan sebagai media tunggal, sebagai media utama yang didukung media visual atau media lainnya. Ataupun, bisa disajikan sebagai media pendukung media visual atau media yang lain.

    Sejalan dengan perkembangan teknologi, saat ini sudah jarang ditemui materi layanan BK yang dikemas dengan format audio. Pada umumnya, materi sudah banyak dikemas dalam bentuk audio-visual.

    Namun demikian, penggunaan media audio dalam layanan BK tetap memiliki peran penting, seperti sebagai backsound dalam membangun suasana tertentu, terapi musik, maupun dokumentasi kegiatan layanan BK.

    3. Audio-Visual

    Media audio-visual merupakan kombinasi dari audio dan visual, sehingga elemen didalamnya berisi suara, teks, gambar statis, gambar gerak, dan video.

    Contoh media BK audio-visual:

    • Film
    • Video
    • TV

    Kelebihan media BK audio-visual:

    • Menarik minat peserta didik dalam kegiatan layanan BK
    • Pesan atau informasi dapat diterima secara merata oleh peserta didik
    • Sangat bagus untuk menyampaikan materi suatu proses
    • Lebih realistis
    • Media dapat diputar ulang, dan dihentikan sesuai kebutuhan
    • Memberikan kesan yang mendalam, sehingaa dapat mempengaruhi sikap konseli
    • Dapat mengatasi keterbatasan ruang dan waktu

    Kekurangan media BK audio visual:

    • Biaya produksi dan peralatan yang digunakan relatif mahal
    • Pembuatan membutuhkan banyak waktu dan tenaga
    • Kegiatan layanan berjalan satu arah, tidak interaktif
    • Sulit mengontrol perhatian konseli

    4. Multimedia

    Multimedia merupakan suatu sistem penyampaian dengan menggunakan berbagai jenis bahan belajar yang membentuk suatu unit atau paket pembelajaran.

    Multimedia merupakan kombinasi dari berbagai format media, mulai dari teks, grafis, suara, animasi, maupun video yang bertujuan untuk menyampaikan suatu informasi.

    Media ini terdiri dari dua macam, multimedia linier dan non-linier.

    Multimedia linier menyajikan konten-konten tanpa adanya menu atau pilihan navigasi, sehingga peserta didik hanya bisa menonton sepertihalnya media video maupun film.

    Sedangkan multimedia non-linier bersifat interaktif. Peserta didik memiliki kontrol untuk menentukan konten yang hendak diakses dari multimedia tersebut karena adanya menu navigasi.

    Keunggulan multimedia:

    • Meningkatkan motivasi dan keikusertaan peserta didik dalam kegiatan layanan
    • Memberikan fleksibilitas karena peserta didik dapat mengakses topik-topik layanan sesuai dengan kebutuhannya
    • Memberikan pengalaman belajar peserta didik dengan beragam media
    • Mengembangkan keterampilan berfikir kritis, metakognitif, dan kreativitas peserta didik

    Kelemahan multimedia:

    • Biaya produksi dan perlengkapan relatif mahal
    • Memerlukan perencanaan yang matang
    • Membutuhkan keahlian Guru BK atau tenaga profesional untuk memproduksi multimedia
    • Memerlukan biaya untuk bisa mengakses multimedia profesional
    • Kompleksitas multimedia dapat membuat peserta didik kebingungan dalam mengikuti navigasi atau mempelajari produk multi media jika tidak memiliki pengetahuan dasar dalam penggunaan multimedia

    5. Media Online

    Sejalan dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi serta kemudahan akses internet, interaksi antara Guru BK dengan peserta didik dapat dilakukan secara online, virtual.

    Penggunaan media online merupakan salah satu model layanan bimbingan dan konseling yang inovatif, praktis, dan bisa dilakukan dimana saja, kapan saja, asalkan terhubung dengan internet.

    Contoh media BK online:

    a. Google

    Google banyak sekali menyediakan platform yang bisa digunakan Guru BK untuk kegiatan layanan bimbingan dan konseling.

    • Google Classroom bisa digunakan untuk bimbingan klasikal.
    • Google Form untuk pengumpulan data pribadi, mengumpulkan dan menilai tugas.
    • Google Meet untuk melakukan video conference.
    • Google Drive untuk menyimpan file-file layanan bimbingan dan konseling.
    • Blogger/Blogspot dapat digunakan untuk menyampaikan informasi atau materi-materi layanan bimbingan.

    Semua fasilitas ini bisa didapatkan dengan gratis, cukup dengan membuat akun Gmail.

    b. Media Sosial (WA, telegram, instagram, TikTok, facebook, youtube, dll.)

    Media sosial merupakan platform online yang banyak diminati oleh peserta didik. Guru BK dapat memanfaatkannya sebagai media bimbingan dan konseling.

    Selain untuk penyampaian layanan informasi, fasilitas video call dapat digunakan untuk bimbingan kelompok, konseling individual, maupun konseling kelompok.

    c. Teleconference

    Teleconference merupakan pertemuan secara virtual yang dilakukan oleh beberapa orang secara jarak jauh menggunakan media digital secara online.

    Kapasitas jumlah peserta yang besar dan adanya fitur yang memungkinkan interaksi antar peserta, teleconference dapat digunakan sebagai media bimbingan klasikal dan kelompok, atau konseling indivual maupun kelompok.

    d. Website

    • Blog
    • Web blog atau blog merupakan bentuk aplikasi web yang berisi sekumpulan halaman yang berisi teks, gambar, maupun video.

      Guru BK dapat memanfaatkan blog untuk menyampaikan informasi maupun materi layanan bimbingan dan konseling.

    • Cyber Counseling
    • Cyber Counseling merupakan layanan konseling yang dilakukan secara virtual, berbasis web.

      Pemanfaatan konseling online memungkinkan konseli lebih terbuka karena tidak merasa canggung, malu, yang mungkin saja dirasakan konseli pada konseling tatap muka.

    6. Permainan

    Permainan merupakan salah satu media bimbingan dan konseling yang dapat digunakan dalam menghadapi konseli, khususnya terhadap anak-anak.

    Penggunaan media permainan mengingat anak-anak terkadang tidak mampu menyampaikan permasalahannya dalam bentuk verbal, mengatakannya, tetapi ditunjukkan dalam perilakunya.

    Permainan dipergunakan untuk memperoleh dan mengumpulkan informasi-informasi yang dibutuhkan untuk menentukan jenis layanan bantuan yang akan diberikan.

    Dengan mengamati proses permainan, Guru BK dapat melihat ekspresi dari sejumlah proses kognisi, afeksi, proses interpersonal, dan pemecahan masalah.

    Tidak semua bentuk permainan dapat digunakan sebagai media, hanya permainan yang mengandung muatan pendidikan dan/atau proses belajar yang bisa dipakai sebagai media.

    Tidak menjadi soal apakah permainan tradisional atau modern, permainan yang dirancang untuk media (permainan edukatif), atau permainan yang sudah ada sebelumnya.

    Sepanjang permainan tersebut memiliki muatan sosial (adopsi peran-peran sosial), melibatkan proses belajar, mematuhi peraturan, disipilin diri, kontol sosial, dan pemecahan masalah dapat dipergunakan sebagai media bimbingan dan konseling.

    Secara khusus, pengunaan media permainan dalam bimbingan dan konseling berfungsi untuk:

    • Memperoleh penguasaan diri atas permasalahan yang dihadapinya
    • Mendapatkan kekuatan dalam dirinya
    • Mengekspresikan emosinya
    • Membentuk kemampuan pemecahan masalah dan membuat keputusan
    • Membangun kemampuan sosial
    • Membangun self-concept dan self-esteem
    • Meningkatkan kemampuan berkomunikasi
    • Menambah wawasan

    Karenanya, dalam memilih bentuk permainan sebagai media dalam layanan bimbingan dan konseling, Guru BK perlu memperhatikan hal-hal berikut:

    • Mendukung perkembangan mental, yaitu permainan yang mengandung unsur-unsur untuk dipikirkan dan dipecahkan sehingga peserta didik dapat belajar dan berlatih memecahkan masalah.
    • Kontrol emosi, yaitu jenis permainan yang memungkinkan peserta didik untuk berlatih menyesuaikan atau menyelaraskan emosinya dengan emosi orang lain, sehingga peserta didik belajar mengontrol emosi, dan dapat menumbuhkan kestabilan emosinya.
    • Kecepatan proses berfikir, yaitu bentuk permainan yang membutuhkan proses berfikir dan imajinasi yang tinggi dalam menyelesaikan permainan.
    • Konsentrasi tinggi, yaitu permainan yang mengharuskan peserta didik untuk fokus dalam menyelesaikan permainan, sehingga peserta didik berlatih untuk memusatkan perhatian atau konsentrasi yang tinggi.
    • Pendekatan sosial, yaitu jenis permaian yang bisa dimainkan semua orang tanpa membedakan gender, ras, suku, agama, maupun status sosial-ekonomi. Sehingga peserta didik dapat bermain bersama, saling mendukung, menumbuhkan kepercayaan diri, dan menjalin interaksi sosial yang menyenangkan.
    • Tanggungjawab dan kepemimpinan, yaitu jenis permainan yang memungkinkan peserta didik memainkan peran masing-masing dalam menyelesaikan permainan, sehingga menumbuhkan kerjasama, demokratis, tanggungjawab, dan leadership.

    7. Media Cetak

    Media cetak merupakan media yang menyajikan pesan melalui huruf dan gambar ilustrasi dalam bentuk publikasi cetak untuk memperjelas informasi yang ingin disampaikan.

    Contoh media cetak:

    • Buku teks, yaitu buku yang mempunyai bahasan tentang cara pemecahan masalah dan/atau cara mengembangkan potensi diri.
    • Media cetak dalam bimbingan dan konseling lazim dipergunakan untuk biblioterapi atau bibliokonseling.

    • Modul, yaitu suatu paket program yang disusun dan didesain secara ringkas dan sistematis sehingga dapat dipelajari peserta didik secara mandiri.
    • Modul biasa digunakan untuk pelaksanaan layanan bimbingan karir, bimbingan belajar, maupun bentuk bimbingan lainnya.

    Kelebihan media cetak:

    • Dapat menyajikan informasi dalam jumlah banyak
    • Dapat dipelajari peserta didik sesuai dengan kebutuhan, minat, dan kecepatan belajar masing-masing
    • Mudah dibawa sehingga dapat dipelajari kapan pun dan dimana saja
    • Dapat dilakukan perbaikan atau revisi dengan mudah jika diperlukan

    Kelemahan media cetak:

    • Proses pembuatan butuh waktu lama dan biaya yang relatif mahal
    • Buku teks dan modul dapat membosankan karena tebal, jilid dan kertas jelek, atau ilustrasi gambar tidak menarik, sehingga mengurangi minat baca peserta didik

    8. Media Objek 3D

    Media objek 3D sebagai alat untuk penyampaian informasi melalui ciri fisik, seperti ukuran, bentuk, berat, warna, fungsi, susunan, dan ciri fisik lainnya.

    Media objek 3D dikelompokkan menjadi dua, yaitu media pengganti (replika dan model), dan objek sebenarnya (objek alami dan buatan).

    Contoh penggunaan media pengganti dalam layanan BK karir, yaitu pohon karir, replika pohon yang berisi jenjang karir maupun studi lanjut untuk mencapai pilihan karir peserta didik.

    Contoh media BK objek sebenarnya, misalnya dalam mengenalkan jenis-jenis karir dengan melakukan kunjungan ke sebuah instansi atau perusahaan. Peserta didik mengidentifikasi jenis-jenis pekerjaan, dan pendidikan atau keahlian apa untuk berada di posisi tersebut.

    Teknik Pemilihan Media Bimbingan dan Konseling

    Media bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari pelayanan yang diberikan Guru BK kepada peserta didik.

    Karenanya, dalam pemilihan media bimbingan dan konseling tidak boleh asal comot. Diperlukan teknik tertentu agar penggunaan media dalam layanan BK bisa efektif dan tepat.

    Berikut beberapa teknik pemilihan media bimbingan dan konseling:

    1. Alasan pemilihan media bimbingan dan konseling

    Penggunaan media dalam layanan BK secara teoritis bertujuan untuk meningkatkan kebermaknaan (meaningful learning) proses dan hasil kegiatan bimbingan dan konseling.

    Sedangkan alasan praktis, pemilihan media bimbingan dan konseling merupakan subjektivitas dari Guru BK mengapa memilih menggunakan media dalam layanan BK, setidaknya terdapat empat alasan:

    • Media bimbingan dan konseling digunakan untuk mendemonstrasikan sebuah konsep, alat, objek, kegunaan, cara mengoperasikan, dll.
    • Guru BK sudah terbiasa menggunakan dan menguasai media bimbingan dan konseling.
    • Penggunaan media dalam layanan BK untuk menjelaskan pesan yang ingin disampaikan, dan/atau memberikan penjelasan yang lebih konkret.
    • Penggunaan media bimbingan dan konseling untuk mendorong peserta didik berperan aktif secara fisik, mental, dan emosional dalam kegiatan layanan BK.

    Apapun alasan Guru BK dalam menggunakan media, dasar pertimbangan utama pemilihan media adalah terpenuhinya kebutuhan dan ketercapaian tujuan layanan, sehingga diperlukan kriteria-kriteria tertentu dalam pemilihan media bimbingan dan konseling.

    2. Kriteria pemilihan media bimbingan dan konseling

    Agar penggunaan media bimbingan dan konseling efektif dan tepat sasaran, maka terdapat beberapa kriteria umum maupun kriteria khusus yang harus dipenuhi.

    Kriteria umum dalam pemilihan media bimbingan dan konseling adalah,

    • Kesesuaian antara media yang dipilih dengan tujuan layanan bimbingan dan konseling
    • Kesesuaian antara media yang akan dipergunakan dengan materi atau pesan yang ingin disampaikan dalam layanan BK
    • Kesesuaian dengan karakteristik peserta didik
    • Kesesuaian dengan teori
    • Kesesuaian dengan gaya belajar peserta didik
    • Kesesuaian dengan kondisi lingkungan, fasilitas pendukung, dan alokasi waktu yang tersedia

    Sedangkan secara khusus, pemilihan media bimbingan dan konseling harus mempertimbangkan hal-hal berikut:

    • Akses
    • Media bimbingan dan konseling yang dipakai harus mudah diakses, baik oleh Guru BK sebagai fasilitator dan presenter, maupun peserta didik sebagai sasaran layanan.

    • Biaya
    • Biaya pembuatan atau pengadaan media harus dipertimbangkan dengan manfaat dari media tersebut.

      Media yang efektif tidak harus selalu mahal, dengan kreatifitas dan penguasaan materi yang baik, maka Guru BK dapat memanfaatkan objek atau benda tertentu untuk dijadikan media bimbingan dan konseling dengan biaya murah namun tetap efektif.

    • Teknologi
    • Media BK dengan memanfaatkan teknologi memang menarik bagi peserta didik. Namun ketersediaan teknologi dan kemudahan pengoperasian perlu menjadi pertimbangan.

      Misalnya, Guru BK akan menggunakan media teknologi berbasis internet, maka perlu dipertimbangkan apakah akses internet tersedia di ruang layanan.

    • Interaktif
    • Media yang baik adalah media yang interaktif, mendorong komunikasi dua arah atau interaktivitas antara Guru BK dengan peserta didik sebagai sasaran layanan.

    • Kekinian
    • Media bimbingan dan konseling yang digunakan harus mempertimbangkan kekinian, artinya media harus selalu update dan upgrade dengan kondisi-kondisi terbaru atau terkini sesuai dengan materi layanan.

    • Dukungan Organisasi
    • Terakhir, kriteria yang disebutkan di atas tidak akan terlaksana dengan baik jika tidak ada atau tanpa dukungan organisasi, dalam hal ini dukungan guru mapel, wali kelas, dan/atau kepala satuan pendidikan sebagai pembuat kebijakan.

    Setelah menentukan kriteria-kriteria dalam pemilihan media bimbingan dan konseling, Guru BK perlu menetapkan prosedur dalam pemilihan media.

    Prosedur pemilihan perlu dibuat karena tidak semua media yang akan dipilih memenuhi semua kriteria, sehingga perlu diketahui dan dilengkapi jika masih ada kekurangan.

    3. Prosedur pemilihan media bimbingan dan konseling

    Prosedur dalam memilih media secara umum dapat dilakukan dengan dua cara atau format, yaitu dengan format flowchart atau daftar checklist.

    a. Format Flowchart

    Flowchart merupakan bagan alir atau diagram yang menggambarkan suatu urutan, prosedur, atau aliran suatu proses.

    Penggunaan flowchart dalam menentukan pilihan media bimbingan dan konseling menggunakan sistem eliminasi dalam pengambilan keputusan.

    Jika media yang akan dipilih tidak memenuhi salah satu kriteria, maka akan gugur dan berpindah pada langkah berikutnya.

    Apabila ketidaksesuaian media dengan kriteria masih bisa diperbaiki, maka dimungkinkan untuk diperbaiki agar sesuai dengan kriteria.

    Sebaliknya, jika tidak bisa lagi dilakukan penyesuaian maka media tersebut dieliminir karena tidak layak digunakan sebagai media dalam layanan BK.

    b. Format Checklist

    Format ini menggunakan daftar cek atau matriks dalam prosedur pemilihan media yang akan digunakan dalam layanan bimbingan dan konseling.

    Sebuah media sebelum dipilih, diteliti kesesuaian dengan materi dan tujuan layanan bimbingan dan konseling dengan memberikan tanda cek/centang pada item yang sesuai dalam daftar checklist kriteria yang sudah ditetapkan.

    Jika media tersebut memiliki kesesuain dengan kriteria, maka bisa diputuskan layak untuk dipergunakan dalam layanan BK.

    Sebaliknya, jika masih terdapat kekurangan, menangguhkan proses keputusan pemilihan sampai semua kriterianya dipertimbangkan.

    Dalam penggunaan di lapangan, format checklist lebih mudah digunakan dan dapat dijadikan bentuk baku sebagai pedoman dalam pemilihan media bimbingan dan konseling.

    Penutup

    Media merupakan alat bantu atau perantara yang digunakan Guru BK dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling.

    Media bimbingan dan konseling merupakan satu kesatuan yang utuh dengan materi layanan, sehingga harus memenuhi kriteria-kriteria tertentu yang mendukung ketercapaian pelaksanaan layanan BK.

    Penggunaan media dalam layanan BK bertujuan untuk meminimalisir terjadinya distorsi dan menghilangkan halangan yang mungkin terjadi selama proses komunikasi antara Guru BK sebagai fasilitator dengan peserta didik sebagai sasaran layanan.

    Selain itu, penggunaan media BK dapat mendorong ketertarikan peserta didik mengikuti proses layanan bimbingan dan konseling karena lebih menarik dan menyenangkan.

    Pada akhirnya, penggunaan media dalam layanan BK diharapkan dapat membantu ketercapaian tujuan layanan bimbingan dan konseling secara efektif, agar peserta didik dapat mencapai perkembangan secara otimal sesuai dengan tugas perkembangannya.

    Related Posts

    Posting Komentar